Pengusaha Boleh Turunkan Tarif Tanpa Menunggu SK Wali Kota

    Share


    Registration date : 1970-01-01

    hot tread Pengusaha Boleh Turunkan Tarif Tanpa Menunggu SK Wali Kota

    Post by  on Thu Jan 22, 2009 6:21 pm

    MAGELANG, KAMIS Penurunan tarif angkutan dapat dilakukan oleh pihak pengusaha tanpa menunggu dikeluarkannya surat keputusan (SK) wali kota. Namun, demi terjaganya suasana persaingan sehat di lapangan, penurunan tarif tersebut harus disepakati bersama para pengusaha lainnya yang tergabung dalam organisasi atau paguyuban angkutan.

    "Kesepakatan bersama ini menjadi dasar yang penting agar para pengusaha angkutan tidak menarik penumpang dengan cara saling berlomba-lomba menurunkan tarif," papar Wali Kota Magelang Fahriyanto, saat ditemui seusai acara ikrar kampanye damai partai politik dalam Pemilu 2009 di Kota Magelang, Kamis (22/1).

    Sejauh ini, Fahriyanto mengatakan, dirinya belum dapat mengeluarkan SK tentang perubahan tarif angkutan. Sebab, hingga sekarang, usulan penurunan tarif dari Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) dan Dinas Perhubungan Kabupaten Magelang, juga belum diterimanya.

    "Kalau toh sudah diajukan, usulan tentang penurunan tarif angkutan tersebut masih perlu dikaji dan tidak langsung serta-merta ditetapkan dalam SK," paparnya.

    Kendati SK tentang perubahan tarif belum dikeluarkan, kondisi ini tidak memicu terjadinya gejolak di masyarakat. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa masalah tarif ini sudah diselesaikan sendiri oleh sopir angkutan dan penumpang.

    "Dimungkinkan, masyarakat juga sudah menerima membayar sesuai tarif sebelum harga BBM turun," ujarnya.

    Handoyo, anggota Paguyuban Angkutan Magelang-Salam-Muntilan (Prasma) di Terminal Tidar, Kota Magelang, mengatakan, penurunan tarif angkutan saat ini tidak mungkin dilakukan karena sejak harga bensin Rp 6.000 per liter, harga onderdil, suku cadang, dan komponen pendukung lainnya naik hingga dua kali lipat. Hal ini menjadi beban yang cukup memberatkan karena penggantian onderdil, seperti kampas rem dan oli, adalah kegiatan rutin yang dilakukan tiap bulan.

    "Penggantian onderdil dan suku cadang ini jelas tidak mungkin diabaikan karena menyangkut keselamatan penumpang," terangnya.

    Slamet, seorang sopir angkutan lainnya, mengatakan, perawatan rutin mesin termasuk penggantian suku cadang dan onderdil ini memakan biaya Rp 300.000 hingga 500.000 per bulan. Oleh pemilik angkutan biaya perawatan ini diambilkan dari pemasukan yang diberikan sopir. Setiap harinya, seorang sopir ditargetkan mampu menyetor pemasukan berkisar Rp 40.000 hingga Rp 140.000 per hari.

      Current date/time is Sun Dec 04, 2016 3:10 pm