Solusi Terbaik bagi Wilayah Israel-Palestina

    Share


    Registration date : 1970-01-01

    hot tread Solusi Terbaik bagi Wilayah Israel-Palestina

    Post by  on Thu Jan 22, 2009 6:55 pm

    JAKARTA, KAMIS Duta Besar Palestina untuk Indonesia Fariz Nafi' Atieh Mehdawi mengatakan, penyelesaian yang paling memungkinkan untuk konflik Israel-Palestina adalah membagi wilayah untuk dua negara. Sayangnya, hingga saat ini tidak ada pihak yang mampu mendorong penyelesaian ke arah tersebut. Hal itu dikatakan Mehdawi saat berbicara dalam diskusi "Konflik Israel-Palestina, Perang Sampai Kapan?" di Sekolah Tinggi Teologi, Jakarta, Kamis (22/1).

    "Unsur pembagian negara, yang mungkin akan menjadi penyelesaian terbaik. Tapi, siapa yang akan mendorong ini terjadi? Bahkan, Obama pun belum bisa mendorong untuk menciptakan solusi ini. Ini harapan dan doa kita bersama," ujar Mehdawi.

    Usulan ini, dikatakan Mehdawi, pernah disampaikan Palestina. Selain itu, satu usulan yang pernah dilontarkan adalah Israel dan Palestina hidup bersama dalam satu negara. "Tapi usulan ini tidak disukai kaum Yahudi dan kaum zionis. Mereka tidak mau di Israel ada orang yang beragama selain Yahudi," lanjut dia.

    Tiga hal penting yang harus dibicarakan dalam penyelesaian konflik Palestina dipaparkan Mehdawi. Pertama, mengenai perbatasan mana yang mau digunakan. Bagi Israel, pembicaraan selalu mengarah pada perbatasan yang disepakati setelah Perang Enam Hari yang terjadi tahun 1967. Kedua, soal pengungsi. "Bagaimana nasib empat juta pengungsi Palestina yang tergusur sejak perang 1948? Israel tidak mau menerima empat juta pengungsi itu. Mereka lebih suka menambah imigran Yahudi ke Israel," kata Mehdawi.

    Ketiga, pembicaraan mengenai ibu kota. Ia melontarkan, ada usulan agar Jerusalem menjadi ibu kota bersama Israel dan Palestina. Mehdawi mengingatkan, melihat konflik dua negara ini, jangan terjebak pada konflik antar-agama Islam dan Yahudi. "Slogan bahwa Palestina negara Islam adalah omong kosong. Di Palestina ada 3 agama, Islam, Kristen, dan Yahudi. Dengan konsep pemikiran seperti inilah, kita bisa melihat persoalan ini dengan jernih. Konflik ini bisa sederhana, tapi kita sering tersesat dengan bumbu-bumbu dari konflik yang sebenarnya terjadi," ujar Mehdawi.

      Current date/time is Sun Dec 04, 2016 3:10 pm