Kak Seto: Demi Anak, Fatwa Haram untuk Rokok Harus Keluar

    Share


    Registration date : 1970-01-01

    hot tread Kak Seto: Demi Anak, Fatwa Haram untuk Rokok Harus Keluar

    Post by  on Thu Jan 22, 2009 7:20 pm

    JAKARTA, RABU Majelis Ulama Indonesia sebagai lembaga yang menaungi banyak orang dianggap tepat untuk mengeluarkan fatwa haram rokok. Hal ini untuk mengurangi kesenjangan anak dan industri rokok sebab banyaknya anak yang merokok tidak saja sebagai korban, tetapi menjadi calon pelanggan tetap di masa depan.

    Hal tersebut dikemukakan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi ketika ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (21/1). Agresivitas industri rokok dalam menjaring anak dan remaja sebagai perokok pemula terus meningkat setiap tahun. "Bahkan ada diketahui anak umur empat tahun sudah jadi perokok pemula," katanya.

    Berdasarkan data World Health Organization tahun 2006, diketahui 24,5 persen anak laki-laki dan 2,3 persen perempuan usia 13-15 tahun adalah perokok. Bahkan, sebanyak 3,2 persen dari jumlah tersebut dalam kondisi ketagihan atau kecanduan.

    Tahun 2001 persentase perokok umur 15-19 tahun berjumlah 12,7 persen, maka tahun 2004 meningkat menjadi 17,3 persen. Bahkan usia perokok pemula semakin rendah menjadi 15 tahun.

    Seto mengatakan, alasan kesehatan merupakan salah satu faktor yang harus sangat diperhatikan. "Setiap enam detik, satu orang meninggal akibat rokok. Rokok merupakan tujuh dari delapan penyebab kematian seseorang hingga saat ini," ujar Seto.

    Maka dari itu, Seto selaku Ketua KNPA mendorong MUI untuk segera mengeluarkan fatwa mengenai haramnya merokok. Hal ini demi melindungi masa depan anak dan remaja agar tidak menjadi korban.

    Saat ini industri rokok justru semakin gencar mengeluarkan iklan dan promosi rokok. Tujuannya untuk menjaring anak menjadi penerus bagi generasi yang sudah tua dan berhenti merokok. Selain itu, hal itu juga untuk mendesak pemerintah agar menaikkan cukai tembakau. Hal ini untuk meminimalkan anak untuk tidak mampu menjangkau harga rokok sekaligus sebagai upaya perlindungan. "(Jumlahnya di) Indonesia termasuk kecil, sekitar 37 persen, padahal di negara lain mencapai 70 persen," tambahnya.

      Current date/time is Sun Dec 11, 2016 6:49 pm