Sekolah Itu Menjadi Tempat Teraman

    Share


    Registration date : 1970-01-01

    hot tread Sekolah Itu Menjadi Tempat Teraman

    Post by  on Thu Feb 05, 2009 12:16 am

    Rani (20), duduk bersimpuh sambil mengelus kepala anaknya, Rizki
    Bachtiar (8 bulan), Rabu (4/2) siang. Warga Desa Telaga, Kecamatan
    Bantarkawung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah tersebut merupakan satu
    dari ratusan warga yang mengungsi, karena rumah mereka terkena
    longsoran. Ia sudah berada di SD tersebut sejak tiga hari lalu.
    Desa
    Telaga merupakan satu dari sembilan desa di Kecamatan Bantarkawung,
    yang mengalami bencana tanah longsor. Berdasarkan data dari Kantor
    Kecamatan Bantarkawung, delapan desa lainnya meliputi Desa Bangbayang,
    Banjarsari, Cibentang, Karangpari, Waru, Cinanas, Pengarasan, dan
    Jipang.
    Sedikitnya 500 warga yang mengungsi di SD Telaga 02.
    Secara keseluruhan, jumlah pengungsi di Desa Telaga mencapai sekitar
    1.072 jiwa. Selain di SD tersebut, warga juga mengungsi di tenda
    darurat dan rumah-rumah warga lainnya yang dinilai masih aman.
    Rani
    mengaku tidak pernah menyangka, bencana melanda desanya. Meskipun
    terletak di wilayah perbukitan, warga tidak siap mengalami kejadian
    tersebut, karena longsor belum pernah terjadi di sana. "Sampai sebesar
    ini, belum pernah ada longsor di desa saya," ujarnya.
    Selama ini,
    ia tinggal bersama ayahnya, Munasor (52), suaminya, Cipto (25), dan
    anaknya, Rizki. Saat kejadian, mereka sedang bersantai di dalam rumah.
    "Tiba-tiba,
    terdengar suara gemuruh dan gemeretak dari lantai serta dinding
    rumahnya. Saat itu malam har i, hujan deras. Lampu listrik mati dan
    tetangga-tetangga pada berteriak," katanya.
    Bersama dengan
    keluarganya, Rani berlari menyelamatkan diri. Ia tinggal di masjid desa
    setempat. Namun karena lokasi masjid juga berdekatan dengan daerah yang
    terkena longsoran, pada Senin siang ia kembali mengungsi ke SD Telaga
    02.
    Rani mengaku sedih dengan kejadian tersebut. Ia takut kembali
    ke rumahnya, karena kondisi tanah perbukitan masih bergerak secara
    perlahan. Padahal, anaknya membutuhkan tempat yang amam dan nyaman.
    Dalam
    lokasi pengungsian, bayi tersebut hanya tidur beralaskan kasur dan
    tikar yang digelar di salah satu ruang kelas. Meskipun terbuat dari
    ubin, lantai sekolah tersebut dingin dan terasa lembab. Saat ini, Rizki
    juga mulai terserang demam.
    Tidak hanya Rani yang mengalami
    kesedihan akibat harus mengungsi. Kosidin (42) juga terpaksa membawa
    keluarganya menginap di sekolah tersebut, karena rumah mereka rusak
    terkena longsor. "Tanah di bawah rumah terbelah, sehingga rumah kami
    sudah tidak layak huni lagi," tuturnya.
    Padahal sebagai petani,
    ia telah bersusah payah mengumpulkan uang untuk bisa membangun rumah
    tersebut. Selain dirinya, isteri, dan satu anak, rumah bertingkat dari
    tembok miliknya juga ditempati keluarga mertuanya, Abdulah (60), serta
    keluarga adiknya, Mu takin (35). Secara keseluruhan, terdapat 10
    penghuni di dalam rumah tersebut.
    Meskipun sedih, Kosidin tidak
    memiliki pilihan lain. Saat ini, sekolah tersebut merupakan tempat yang
    paling aman untuk mengungsi. Ia berharap agar pemerintah merelokasi
    warga yang rumahnya rusak terkena longsor.
    Kepala SD Telaga 02,
    Sutomo mengatakan, lokasi SD memang dinilai paling aman, karena jauh
    dari perbukitan yang longsor. Meskipun dijadikan sebagai tempat
    pengungsian, siswa tetap diupayakan mendapat pelajaran.
    Kegiatan
    belajar mengajar berlangsung secara bergantian dengan warga yang
    mengungsi. Namun karena ruang kelas dipenuhi dengan perabotan, seperti
    kasur, siswa terpaksa belajar secara lesehan dengan menggunakan tikar.
    Pada
    pagi hari, warga terpaksa menunggu di luar, karena ruang kelas
    digunakan untuk sekolah. "Sekarang sudah ada tenda darurat di sekitar
    sekolah, kemarin kambing dan sapi juga dibawa ke halaman sekolah ini,"
    katanya.
    "Sekolah duduk di lantai tidak apa-apa, masih bisa
    menerima pelajaran," tutur Ihad Mustakin, siswa kelas IV SD Telaga 02.
    Meski masih kecil, bocah tersebut mengaku bisa merasakan kesedihan
    warga di desanya. Oleh karena itu, ia rela bersekolah dengan berda
    mpingan bersama pengungsi.
    Hal senada juga disampaikan Siti
    Masruroh, siswa kelas VI SD Telaga 02. Karena sekolahnya dinilai paling
    aman, ia pun tidak keberatan harus sekolah secara lesehan. Gadis kecil
    tersebut berharap agar bencana yang melanda wilayahnya segera berakhir.
    Kepala
    Seksi Perlindungan Masyarakat, Kantor Kesatuan Bangsa, Politik, dan
    Perlindungan Masyarakat Brebes, Mujahidin mengatakan, penggunaan SD
    sebagai lokasi pengungsian bersifat sementara. Pemerintah akan
    mengupayakan lokasi lain dengan menggunakan tenda, karena khawatir
    aktifitas sekolah terganggu.
    Saat ini, bantuan tenda yang sudah
    diberikan meliputi 40 tenda besar, dua unit tenda evakuasi, dan 27
    tenda dari PMI. Menurut dia, banyak rumah warga yang rusak karena
    sebagian besar merupakan rumah semi permanen.

      Current date/time is Sat Dec 03, 2016 2:59 am