DBD Tewaskan 17 Warga Sulteng

    Share


    Registration date : 1970-01-01

    hot tread DBD Tewaskan 17 Warga Sulteng

    Post by  on Thu Feb 05, 2009 12:30 am

    PALU, RABU - Serangan penyakit Demam Berdarah Dengue
    (DBD) di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) sepanjang tahun 2008, telah
    mengakibatkan sedikitnya 17 penderitanya meninggal dunia.

    Kabid
    Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Sulteng, dr Ida Bagus
    Yadnya Putera, kepada ANTARA di Palu, Rabu, mengatakan dari jumlah
    korban yang meninggal dunia itu, paling banyak berada di Kota Palu
    dengan 10 kasus, disusul Kabupaten Tolitoli dua kasus.

    Sisanya,
    tersebar di Kabupaten Donggala, Poso, Banggai, dan kabupaten lain.
    "Jumlah penderita DBD yang meninggal pada tahun 2008 mengalami
    peningkatan dibanding tahun 2007 yang mencapai 16 orang," katanya.

    Dokter
    Ida menjelaskan, total kasus DBD yang terjadi di Provinsi Sulteng
    sepanjang tahun 2008 mencapai 1.389 kasus. Angka ini juga meningkat
    dibanding tahun sebelumnya yang hanya 1.307 kasus.

    Sepanjang
    tahun 2008, Kota Palu merupakan daerah paling tinggi memiliki kasus DBD
    yaitu sebanyak 834 kasus, disusul Kabupaten Tolitoli sebanyak 260 kasus
    dan Kabupaten Donggala berjumlah 89 kasus.

    Sedangkan Kabupaten Morowali dan Kabupaten Tojo-Unauna hingga kini masih dinyatakan daerah bebas serangan penyakit DBD.

    Menurutnya,
    DBD adalah penyakit berbahaya yang ditularkan oleh nyamuk Aedes
    Aegypti, dan dampaknya dapat mengakibatkan kematian dalam waktu yang
    singkat. Bahkan kalau terlambat dikendalikan, dapat menimbulkan wabah.

    Untuk
    mencegah dan membatasi penyebaran penyakit DBD, katanya, dibutuhkan
    peran aktif masyarakat luas dalam melakukan pemberantasan sarang nyamuk
    tersebut, agar setiap rumah dan lingkungan bebas dari jentik nyamuk
    berbahaya ini.

    "Pemberantasan sarang nyamuk DBD dapat
    dilakukan dengan cara 3M yakni menguras dan menutup rapat tempat
    penampungan air, serta mengubur barang bekas yang dapat menjadi sarang
    berkembangbiaknya nyamuk Aedes Aegypti," katanya.

    Selain
    itu, perlu dilakukan abatisisasi terhadap tempat-tempat penampungan air
    serta mengembangkan sistim perangkap telur (Ovi Trap).

    Khusus
    untuk pencegahan melalui cara perangkap telur ini, katanya, dapat
    dilakukan dengan menyiapkan sebuah ember berwarna hitam, kemudian di
    isi air nyaris penuh lalu diletakkan di dalam ruangan agak gelap selama
    empat hari sebagai wadah nyamuk Aedes Aegypti untuk bertelur.

    "Tunggu
    perkembangannya selama empat hari, asal jangan lebih dari satu minggu,
    sebab proses pertumbuhan nyamuk ini sangat cepat. Setelah itu, airnya
    dibuang agar telur nyamuk ini mati. Hasil ini sesuai hasil survei dan
    uji coba kami di wilayah Kota Palu dan Kabupaten Donggala," katanya
    menjelaskan.

    Dengan menerapkan cara-cara demikian itu dan
    dilakukan oleh masyarakat luas, Dinas Kesehatan Sulteng berharap kasus
    DBD di daerahnya dapat diminimalisir angkanya dari tahun ke tahun, demi
    tercapainya keluarga bersih dan sehat.

      Current date/time is Sat Dec 03, 2016 7:21 am