100 Perawat Indonesia Mulai Dipekerjakan di RS Jepang

    Share


    Registration date : 1970-01-01

    hot tread 100 Perawat Indonesia Mulai Dipekerjakan di RS Jepang

    Post by  on Thu Feb 05, 2009 12:31 am

    OSAKA, RABU - Sedikitnya 47 rumah sakit di seluruh
    Jepang pada pertengahan Februari 2009 mulai mempekerjakan para perawat
    (nurses) asal Indonesia, menyusul berakhirnya pelatihan mereka di
    berbagai pusat pelatihan di Negeri Sakura itu.

    Hal tersebut
    mengemuka dalam paparan yang disampaikan General Manager Kansai Kenshu
    Center AOTS Hideo Yoshihara di Osaka, Rabu, saat Dubes RI untuk Jepang
    Jusuf Anwar dan Acting Konsul Jenderal RI Osaka Mozes Tandung Lelating
    meninjau kondisi para perawat Indonesia.

    "Para perawat dari
    pusat pelatihan Osaka akan ditempatkan di 18 rumah sakit, sedangkan
    yang dididik di Kobe akan ditempatkan di 22 rumah sakit," kata
    Yoshihara.

    Perawat Indonesia akan ditempatkan di rumah sakit
    rumah sakit di Provinsi Kanagawa, Kyoto, Nara, Wakayama, Hyogo,
    Yamaguchi, Fukuoka, Oita, Saga dan Kumamoto.

    KBRI Tokyo dan
    KJRI Osaka sejak awal kedatangan para perawat dan caregivers Indonesia
    pada Agustus 2008 terus memantau perkembangan mereka, terutama di tahun
    2009 saat tenaga profesional itu mengikuti ujian Bahasa Jepang dan
    ujian keperawatan yang terkenal sulit.

    Para caregivers (perawat
    untuk para jompo) memang sudah mendapatkan sertifikasi Bahasa Jepang
    pada 27 Januari lalu dan langsung diberangkatkan ke 21 panti jompo yang
    tersebar di beberapa provinsi Jepang. Kini giliran para "nurses".

    Sedangkan
    para perawat, selain ujian Bahasa Jepang (pada 22 Februari mendatang)
    juga diharuskan mengikuti ujian keterampilan keperawatan. Kegiatan
    pelatihan itu sendiri baru akan berakhir pada 12 Februari 2009.

    Kesiapan
    para perawat secara keluruhan dinilai oleh manajemen AOTS (Association
    for Overseas Technical Scholarship) sangat baik sehingga dalam
    menghadapi ujian nanti pihaknya optimis bisa melewatinya dengan baik,
    sama seperti rekan-rekannya yang caregivers.

    "Kondisi mental dan
    kesehatan mereka sangat baik. Mereka juga disiplin, dan penuh
    semangat," kata Yoshihara menjawab pertanyaan Dubes soal kondisi
    kesehatan para perawat.

    Kunjungan Dubes Jusuf Anwar dan Acting
    Konjen Osaka Mozes Lelating bertujuan untuk menyemangati para perawat,
    mengingat mereka menjadi "pintu gerbang" bagi kelanjutan program
    pengiriman perawat yang berada dalam skema perjanjian kerja sama
    Economic Partenership Agreement (EPA) Indonesia dan Jepang.

    Dubes
    sendiri menekankan bahwa para perawat mulai akan memasuki kehidupan
    nyata setelah tanggal 12 Februari nanti, saat dimulainya penempatan
    kerja di rumah sakit Jepang.

    "Berikan yang terbaik dan jagalah
    citra Indonesia, karena anda-anda sekalian juga merupakan duta bangsa
    yang membawa nama baik Indonesia," kata mantan menteri keuangan itu
    yang kedatangannya juga membagi-bagikan alamat KBRI Tokyo, KJRI Osaka
    dan organisasi kemasyarakatan Indonesia di seluruh Jepang.

    Sirnanya Keraguan
    Pada
    kesempatan itu, disampaikan juga bahwa KBRI Tokyo dan KJRI Osaka sudah
    menyiapkan tim monitoring yang akan memantau perkembangan para perawat
    Indoensia yang sudah tersebar ke berbagai daerah di seantero Jepang,
    termassuk sambungan telepon "hotline".

    Selain meninjau fasilitas
    pelatihan AOTS di Osaka, Jusuf Anwar dan Mozes Lelating melanjutkan
    peninjauan ke pusat pelatihan serupa di Kobe.

    "Saya yakin
    keraguan publik Jepang akan sirna dengan sendirinya begitu melihat
    kemampuan perawat Indonesia bekerja," kata Lelating di Kobe.

    Salah
    seorang perawat, Suwarti (30) mengakui bahwa dirinya sudah tidak sabar
    untuk mengikuti ujian, karena sebetulnya materinya sama saja dengan
    yang pernah diajarkan di Indonesia.

    "Tantangannya adalah di
    penggunaan kanji-nya. Itu sebetulnya bisa kita atasi jika tercantum
    juga petunjuk soal dalam tulisan hiragana dan katakana yang sudah cukup
    kami pahami dengan baik," kata perawat yang mengikuti pelatihan di
    Kobe. Ia sendiri akan ditempatkan di RS Palang Merah Himeji (Himeji
    Sekijuji Byoin).

    Optimisme senada juga disampaikan Hervina Widha
    (24), perawat yang pernah bekerja di RS Pondok Indah Jakarta. Untuk
    membuktikan bahwa mereka bisa berbahasa Jepang, baik Suwarti dan
    Hervina tidak segan-segan menjawab dengan cepat pertanyaan yang
    diajukan Dubes dan Acting Konjen.

    "Coba apa Bahasa Jepangnya
    silahkan makan," tanya Dubes. "Dozo meshiagatte kudasai," jawab Suwarti
    cepat yang langsung disambut tepuk tangan rombongan KBRI dan KJRI.

    Pelatihan
    bagi 104 perawat Indonesia tersebar di Tokyo, Osaka dan Kobe. Pihak
    AOTS dan juga Japan Foundation, dua lembaga yang ditugasi pemerintah
    Jepang, menargetkan kemampuan dasar yang harus bisa dikuasasi selama
    enam bulan, yakni penguasaan dasar-dasar Bahasa Jepang, pemahaman
    budaya, dan peningkatan keterampilan.

    "Kemajuan selanjutnya
    tergantung pada kemampuan perawat Indonesia sendiri serta dukungan
    lembaga yang menerima mereka," kata Dirut AOTS Kazuo Kaneko.

      Current date/time is Sat Dec 03, 2016 7:22 am