Rendah, Pengetahuan Penyakit Akibat Kerja

    Share


    Registration date : 1970-01-01

    hot tread Rendah, Pengetahuan Penyakit Akibat Kerja

    Post by  on Thu Feb 05, 2009 12:32 am

    JAKARTA, RABU - Pengetahuan pekerja tentang
    penyakit akibat kerja masih rendah dan diperkirakan kurang dari 15
    persen sehingga diperlukan sosialisasi agar tidak menjadi beban di masa
    datang.

    Direktur Operasi dan Pelayanan PT Jamsostek Ahmad
    Anshori sebelum pembukaan Pertemuan Dokter Penasehat di Jakarta, Rabu,
    mengatakan, di sisi lain jumlah Dokter Penasihat yang memberi
    pertimbangan medis juga masih sedikit.

    Anshori lebih jauh menjelaskan bahwa saat ini sangat banyak jenis pekerja yang berpotensi menimbulkan penyakit bagi pelakunya.

    Dia
    mencontohkan pekerja yang terlalu lama menggunakan komputer bisa
    menurunkan daya penglihatan, begitu juga pada mereka yang bekerja pada
    suasana bising atau berdebu yang dapat menurunkan pendengaran dan
    menderita penyakit paru.

    PT Jamsostek sebenarnya
    memberikan jaminan perlindungan bagi pekerja yang sakit akibat bekerja
    di kondisi tertentu. "Kita masih mentolerir klaim hingga pekerja
    pensiun atau berhenti kerja setelah dua tahun," kata Anshori.

    Permasalahnnya,
    diperlukan pihak yang menjadi penentu jika terjadi perselisihan
    pendapat antara pekerja yang sakit dengan petugas PT Jamsostek.

    Berdasarkan
    Surat Keputusan Menakertrans No.227/MEN/XI/2008 tentang Pengangkatan
    Dokter Penasehat, maka yang menjadi penentu atau memberi pertimbangan
    medis adalah Dokter Penasehat.

    Mekanismenya, Dinas Tenaga
    Kerja dan Dinas Kesehatan di daerah merekemondasi seorang atau sejumlah
    dokter untuk menjadi Dokter Penasehat.

    Berdasarkan
    rekomendasi itu, maka Menakertrans akan mengeluarkan surat keputusan
    untuk mengesahkan dokter tersebut sebagai Dokter Penasehat.

    Permasalahannya,
    jumlah Dokter Penasehat saat ini masih kecil jika dibandingkan jumlah
    pekerja dan sebaran wilayahnya, yakni baru 42 orang. Anshori menilai
    masih diperlukan sejumlah Dokter Penasehat lagi agar jumlahnya memadai.


    Dengan angka 42 orang, kata Anshori, maka rata-rata Dokter
    Penasehat di suatu provinsi hanya satu atau dua orang saja sehingga
    jika terjadi perselisihan di Berau, maka akan muncul kesulitan jika
    Dokter Penasehat berdomisili di Samarinda yang menjadi ibukota provinsi
    Kalimantan Timur.

    Di sisi lain, kesadaran pekerja yang
    menjadi peserta Jamsostek tentang bahaya penyakit akibat kerja juga
    masih rendah. Anshori memperkirakan jumlahnya kurang dari 15 persen.

    PT
    Jamsostek sendiri belum mendata secara spesifik jumlah pekerja yang
    mengklaim santunan karena menderita akibat bekerja dalam kurun waktu
    tertentu di suatu jenis pekerjaan.

    "Belum. Kita belum
    mendata secara spesifik. Bisa saja mereka menjadi ’dark number’ karena
    pekerja juga tidak mengklaimnya. Penyebabnya, karena mereka tidak tau
    bahwa ada jenis santunan untuk kasus seperti itu," kata Anshori.

    Klaim
    yang muncul saat ini, sebagian besar dari pekerja yang mengalami
    kecelakaan kerja lalu cacat. Tingkat (persentase) kecacatan itu yang
    bisa menimbulkan perselisihan antara pekerja dengan petugas dari PT
    Jamsostek.

    Karena itu dipandang perlu diadakan kegiatan untuk meningkatkan kemampuan dokter penasehat terkait program JKK.

    Kegiatan
    tersebut berupa Pertemuan Dokter Penasehat berupa pembekalan,
    penyelenggaran bimbingan teknis dan pertemuan rutin bulanan.

    Materi
    yang disampaikan dalam pertemuan tersebut, diharapkan bisa mendukung
    mekanisme penyelesaian kasus kecelakaan kerja dan penyakit akibat
    kerja, khususnya dalam diagnosis, penatalaksanaan dan penilaian
    kecacatan oleh dokter penasehat.

    Tujuan pertemuan yang dibuka
    Dirjen Pembinaan dan Pengawasan Depnakertrans I Gusti Made Arka itu
    membangun keselarasan pola pikir dokter penasehat, menciptakan
    kesepemahaman dalam mendiagnosis, melakukan kajian terhadap kasus dan
    merumuskan inovasi baru.

    Pertemuan dihadiri 42 dokter di
    sebuah hotel di Jakarta dengan sedikit enam pembicara, diantaranya dr
    Kusmedi Priharto, dr Gitalisa Andayani dan Dr. dr. Jenny Bashiruddin.

      Current date/time is Thu Dec 08, 2016 2:53 pm