72 Persen Masyarakat Pernah Sakit gigi

    Share


    Registration date : 1970-01-01

    hot tread 72 Persen Masyarakat Pernah Sakit gigi

    Post by  on Thu Feb 05, 2009 12:33 am

    MEDAN, RABU - Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG)
    Universitas Sumatera Utara (USU), Prof Ismet Daniel Nasution,
    mengatakan sekitar 72 persen penduduk Indonesia mempunyai pengalaman
    karies (gigi berlubang) dan 46,5 diantaranya merupakan karies aktif
    yang belum dirawat.

    "Ini diperoleh dari data terbaru yang
    dikeluarkan Departemen Kesehatan dari riskesdas (riset kesehatan dasar)
    tahun 2007, dan pada umumnya diderita anak-anak," katanya di Medan,
    Rabu.

    Menurut dia, penyebab tingginya prevalensi penyakit gigi
    dan mulut pada umumnya karena faktor perilaku dan pelayanan kesehatan
    gigi dan mulut yang belum merata.

    "Dalam hal kebiasaan
    menggosok gigi, sebanyak 91 persen penduduk usia 10 tahun ke atas telah
    melakukannya setiap hari, namun hanya tujuh persen yang menggosok gigi
    dua kali di waktu yang benar, yaitu sesudah makan pagi dan sebelum
    tidur malam," katanya.

    Melihat masih banyaknya penyakit gigi dan
    mulut yang diderita masyarakat, terutama di daerah-daerah pedesaan,
    pihaknya telah melakukan kerja sama dengan PT Unilever dalam program
    desa binaan di Desa Ujung Rambung, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten
    Serdang Bedagai, Sumut.

    Kegiatan yang dilakukan di desa binaan
    itu meliputi penyuluhan dan edukasi kesehatan gigi dan mulut minimal
    sebulan sekali sepanjang tahun, pelayanan kesehatan gigi dan mulut
    serta penelitian-penelitian untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut
    masyarakat.

    Program itu ditujukan untuk mendorong dan
    memotivasi masyarakat agar menjaga dan meningkatkan kesehatan gigi dan
    mulut melalui pendidikan kesehatan yang berkesinambungan serta
    meningkatkan pengetahuan terutama bagaimana pemeliharaan dan pencegahan
    penyakit gigi dan mulut.

    Tentang pemilihan Desa Ujung Rambung
    sebagai desa binaan, ia mengatakan didasarkan kondisi desa yang sangat
    minim akan fasilitas kesehatan, misalnya puskesmas yang terletak di
    ibukota kecamatan yang jaraknya lima kilometer dari desa.

    Jumlah
    anak-anak di desa itu yang sekitar sepertiga dari total jumlah penduduk
    desa juga merupakan salah satu pertimbangan dijadikannya desa itu
    sebagai desa binaan.

    "Hal ini karena anak-anak merupakan usia
    yang rentan mengalami gangguan kesehatan gigi dan mulut. Pendidikan
    kesehatan gigi dan mulut yang ditanamkan sejak usia dini diharapkan
    akan terbawa sampai mereka dewasa nanti," katanya.

      Current date/time is Fri Dec 09, 2016 10:23 pm