10 Spesies Amfibi Ditemukan di Kolombia

    Share


    Registration date : 1970-01-01

    hot tread 10 Spesies Amfibi Ditemukan di Kolombia

    Post by  on Thu Feb 05, 2009 12:52 am

    BOGOTA, SELASA Ilmuwan mengumumkan penemuan 10
    spesies baru amfibi, di antaranya katak berkulit duri, katak oranye
    hujan, tiga katak beracun, dan tiga katak "kaca" karena kulitnya tembus
    pandang sehingga organ dalamnya bisa terlihat jelas. Seluruh spesies
    itu ditemukan di Pegunungan Tacarcuna, wilayah Darien, Kolombia, dalam
    satu ekspedisi Rapid Assesment Program.
    Ekspedisi yang
    dilaksanakan di perbatasan Kolombia dan Panama itu melibatkan ahli dari
    berbagai disiplin ilmu, di antaranya ahli reptil dan amfibi
    (herpetologi) dari Conservation International di Kolombia dan ahli
    burung (ornithologi) dari Ecotropico Foundation yang didukung komunitas
    lokal Embera di Eyakera.
    Selama tiga pekan ekspedisi itu, para
    ilmuwan bisa mengidentifikasi sekitar 60 spesies amfibi, 20 reptil, dan
    hampir 120 jenis burung. Banyak di antara binatang-binatang itu tidak
    bisa dijumpai di tempat lain di kawasan itu.
    Sebagai hasil tambahan ekspedisi ilmiah itu, ditemukan pula satu mamalia besar semisal tapir baird (Tapirus bairdii)
    yang masuk dalam Daftar Merah IUCN sebagai hewan liar terancam punah di
    Kolombia dan empat spesies monyet, meliputi monyet laba-laba geoffrey (Ateles geoffroyi), dan tamarin geoffroy alias tamarin bermuka pucat merah (Saguinus geoffroyi).
    Selain itu, juga ditemukan kapucin tenggorokan putih alias kapucin dada putih gorgona (Cebus capuchinus) dan monyet mantel besar (Alloutta palliate), dan mereka juga menjumpai satu kelompok pekari bibir putih (Tayassi pecari).Hal
    mengejutkan adalah para ilmuwan itu menemukan kehadiran spesies
    binatang liar yang khas Amerika Tengah di bagian utara Amerika Selatan,
    meliputi salamander (Bolitoglossa taylori), katak hujan (Pristimantis pirrensis), kadal kecil (Ptychoglossus myersi), dan satu jenis ular yang belum diketahui nama ilmiahnya.
    "Satu
    hal yang kami yakinkan adalah kami pemimpin dalam keragaman alam, tidak
    saja di wilayah kami, tetapi juga di dunia. Tanpa bantahan, penemuan
    ini mewakili satu batu penjuru bagi kemanusiaan dan kesehatan," kata
    Menteri Lingkungan Kolombia Juan Lozano.
    Para ilmuwan selama ini
    menyakini bahwa kehadiran amfibi menjadi indikator penting bagi
    kesehatan ekosistem. Dengan kulitnya yang porus dan memiliki daya serap
    tinggi, amfibi sering memberi peringatan awal terhadap degradasi
    lingkungan yang disebabkan hujan asam atau kontaminasi metal berat dan
    pestisida. Seluruhnya bisa berdampak pada kualitas kehidupan manusia.
    Selain
    itu, amfibi sangat peka terhadap perubahan cuaca, dengan banyak spesies
    di antara mereka yang mudah terkena dampak perubahan iklim. "Tanpa bisa
    dibantah, wilayah ini sungguh adalah bahtera Nabi Nuh. Jumlah besar
    amfibi yang ditemukan adalah sinyal harapan, sekalipun ada ancaman
    serius terhadap keberadaan binatang-binatang itu dalam wilayah ini dan
    juga di dunia," kata Direktur Ilmiah CI Kolombia Jose Vicente
    Rodriguez-Mahecha.
    Wilayah Darien sejauh ini sangat terisolasi
    dalam wilayah pegunungan Cordilllera de Los Andes. Kalangan ilmiah
    mengenalinya sebagai pusat endemis binatang liar dan sangat berharga
    dalam hal keragaman biodiversitas. Dari kajian sejarah, wilayah itu
    berkedudukan sebagai "jembatan" bagi perubahan flora dan fauna antara
    belahan utara dan selatan Benua Amerika.
    Walaupun lingkupan
    alamiah wilayah Darien itu relatif tidak terganggu, wilayah itu juga
    menghadapi banyak ancaman dan sedang mengalami transformasi cepat
    perubahan bentang alam, terutama karena penebangan kayu terbatas,
    pembukaan peternakan, pembukaan lahan pertanaman, perburuan,
    pertambangan, dan fragmentasi habitat.
    Diperkirakan antara 25 dan
    30 persen vegetasi alamiah di sana telah mengalami deforestasi,
    terutama di dataran rendah bertanah aluvial.
    Mengikuti penemuan
    ilmiah ini, diharapkan hasil ekspedisi bisa menjadi sumbangan terhadap
    upaya perlindungan status wilayah dan membantu dalam hal pengumuman
    wilayah-wilayah dilindungi baru di Pegunungan Tarcuna. Tujuan tambahan
    lain adalah mendorong inisiatif yang menjamin hak pemilikan lahan bagi
    komunitas asli Embera di Eyakera.

      Current date/time is Thu Dec 08, 2016 2:50 pm