Awas Arus Balik di Pantai!

    Share


    Registration date : 1970-01-01

    hot tread Awas Arus Balik di Pantai!

    Post by  on Thu Feb 05, 2009 12:53 am

    YOGYAKARTA, SELASA Para praktisi ilmu kebumian
    menegaskan bahwa penyebab utama hilangnya sejumlah wisatawan di Pantai
    Parangtritis, Bantul, adalah akibat terseret rip current. Dengan kecepatan mencapai 80 kilometer per jam, arus balik itu tidak hanya kuat, tetapi juga mematikan.
    Kepala Laboratorium Geospasial Parangtritis I Nyoman Sukmantalya mengatakan, sampai sekarang informasi mengenai rip current
    amat minim. Akibatnya, masyarakat masih sering mengaitkan peristiwa
    hilangnya korban di pantai selatan DI Yogyakarta dengan hal-hal yang
    berbau mistis. Padahal, ada penjelasan ilmiah di balik musibah tersebut.
    Arus
    balik merupakan aliran air gelombang datang yang membentur pantai dan
    kembali lagi ke laut. Arus itu bisa menjadi amat kuat karena biasanya
    merupakan akumulasi dari pertemuan dua atau lebih gelombang datang.
    "Bisa
    dibayangkan kekuatan seret arus balik beberapa kali lebih kuat dari
    terpaan ombak datang. Wisatawan yang tidak waspada dapat dengan mudah
    hanyut," demikian papar Nyoman, Selasa (3/2) di Yogyakarta.
    Celakanya,
    arus balik terjadi begitu cepat, bahkan dalam hitungan detik. Arus itu
    juga bukan hanya berlangsung di satu tempat, melainkan berganti-ganti
    lokasi sesuai dengan arah datangnya gelombang yang juga menyesuaikan
    dengan arah embusan angin dari laut menuju darat.
    Nyoman
    melanjutkan, korban mudah terseret arus balik karena berada terlalu
    jauh dari bibir pantai. Ketika korban diterjang arus balik, posisinya
    akan mudah labil karena kakinya tidak memijak pantai dengan kuat.
    "Karena
    terseret tiba-tiba dan tidak bisa berpegangan pada apa pun, korban
    menjadi mudah panik, dan tenggelam karena kelelahan," lanjutnya.
    Terpisah,
    Staf Ahli Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada, Djati Mardianto,
    melanjutkan, apabila korban tetap tenang saat terseret arus, besar
    kemungkinan baginya untuk kembali ke permukaan. "Karena arus berputar
    di dasar laut sehingga materi di bawah bisa naik lagi," ujar Djati.
    Setelah
    mengapung, korban bisa berenang ke tepi laut, atau membiarkan diri
    terempas ke pantai oleh gelombang datang lain. Setidak-tidaknya, korban
    memiliki kesempatan untuk melambaikan tangan atau berteriak minta
    tolong.
    Bagaimana dengan korban hilang? Djati mengatakan, hal
    itu dapat terjadi apabila korban terlalu kuat melawan arus saat berada
    di dalam air sehingga urung mengapung. Sebaliknya, korban akan semakin
    jauh terseret arus bawah laut dan bisa tersangkut karang atau masuk ke
    dalam patahan yang berjarak sekitar satu kilometer dari bibir pantai.
    Di dasar patahan yang kedalamannya mencapai ratusan meter itu, korban
    akan semakin sulit bergerak karena ia bercampur dengan aneka materi
    padat yang terkandung dalam arus.
    Korban akan diperlakukan sama
    seperti material, yakni diendapkan. Korban baru bisa kembali terangkat
    ke permukaan jika ada arus lain yang mengangkat sedimen dari dasar
    laut. Namun, ia mengatakan, biasanya hal itu butuh waktu lama.
    Meski
    sulit, diperkirakan kedatangannya, arus balik sebenarnya bisa dikenali.
    Menurut Nyoman, permukaan arus balik terlihat lebih tenang daripada
    gelombang datang yang berbuih. Selain itu, arus balik biasa terjadi di
    ujung-ujung cekungan pantai dan warnanya keruh karena membawa banyak
    materi padat dari pantai.
    Masalahnya, banyak wisatawan justru
    senang bermain di pantai yang tenang karena dianggap lebih aman.
    "Padahal, lokasi tersebut amat berbahaya," kata Nyoman.
    Sejauh
    ini, cara terbaik untuk mengurangi risiko bencana terseret arus di
    pantai adalah dengan tidak bersikap nekat berenang ke tengah laut.
    Pengunjung harus benar-benar mematuhi rambu larangan berenang yang
    dipasang tim search and rescue (SAR) di sepanjang pantai.
    Selain
    itu, kondisi cuaca juga harus dipertimbangkan. Gelombang laut akan
    membesar di musim penghujan karena terpengaruh angin barat. Berenang di
    laut pada malam hari pun sebisa mungkin dihindari karena arus balik
    akan menguat akibat terpengaruh pasang.
    Menurut kedua pakar
    geomorfologi pesisir itu, tidak ada pantai di DIY yang aman. Semua
    memiliki potensi arus balik yang kuat. Bahkan, di sejumlah pantai di
    Gunung Kidul, arus balik kian diperkuat oleh buangan air sungai bawah
    tanah.
    Pemerintah daerah juga bisa mempelajari pola-pola arus
    balik dengan melakukan pengamatan rutin sepanjang tahun menggunakan
    citra satelit beresolusi tinggi, seperti citra Quickbird dan IKONOS.
    Kedua satelit itu bisa merekam dengan jelas benda yang berukuran kecil
    hingga ukuran satu meter.
    "Sejauh ini, penelitian ke arah sana
    baru sebatas pada skripsi mahasiswa. Belum ada penelitian yang mendalam
    dan menghasilkan rekomendasi kebijakan," papar Djati.
    Pemerintah
    daerah pun sebaiknya memberikan pemahaman yang benar mengenai penyebab
    bencana laut kepada warga di sekitar pantai. Informasi tersebut dapat
    diteruskan kepada wisatawan guna meningkatkan kewaspadaan mereka.
    Bagi pengunjung, informasi berupa papan larangan berenang dan imbauan petugas dianggap jelas belum cukup. Kenapa tak dibagikan leaflet kecil begitu pengunjung mau masuk pantai. Leaflet itu berisi penjelasan singkat, harus bagaimana dan di mana jika ingin mencebur ke laut. Nyoman
    mengatakan, ketinggian air sepaha orang dewasa sudah cukup bagi arus
    balik untuk menyeret orang ke tengah laut. Paling aman, usahakan air
    hanya sampai ketinggian mata kaki.

      Current date/time is Sun Dec 11, 2016 6:48 pm