Babak Baru Riset Sel Punca

    Share


    Registration date : 1970-01-01

    hot tread Babak Baru Riset Sel Punca

    Post by  on Thu Feb 05, 2009 12:54 am

    Setelah sekitar delapan tahun diboikot secara
    politik, para ilmuwan di Amerika Serikat mendapat lampu hijau untuk
    kembali mengembangkan riset sel punca embrionik. Meski dibayangi
    masalah etika, hal ini menimbulkan harapan akan adanya temuan baru.
    Pesatnya
    perkembangan penelitian sel punca, khususnya embrionik, di AS mengalami
    masa suram saat pemerintahan Presiden George Bush. Karena dinilai tidak
    etis, Bush melarang pemerintah federal mendanai studi mengenai sel
    punca dari embrio manusia.
    Namun, era pemboikotan politik
    terhadap aktivitas riset sel punca, khususnya embrionik, tidak lama
    lagi akan berakhir. Dalam kampanyenya, Presiden Barack Obama telah
    berjanji untuk mencabut larangan riset dan pemerintahannya mendukung
    penelitian sel punca.
    Perubahan itu disambut gembira oleh para
    ilmuwan, termasuk Douglas Melton dari Universitas Harvard. Ia dan
    sejumlah ilmuwan lain yang memilih tetap bertahan di AS di bawah
    tekanan politik Bush secara gigih terus mengembangkan riset sel punca
    meski dibatasi ruang geraknya.
    Tragedi menginspirasiInspirasi
    para ilmuwan untuk terus bersemangat mengembangkan riset sel punca bisa
    datang dari mana saja, termasuk tragedi. Dalam kasus Melton,
    kegigihannya dalam meneliti sel punca embrionik berawal dari
    penderitaan anaknya, Sam, saat berusia 6 bulan, yang didiagnosis
    terkena diabetes tipe satu.
    Penyakit itu tak hanya mengubah
    kehidupan Sam semasa kanak-kanak, tetapi juga seluruh anggota
    keluarganya. Hampir setiap malam, Melton dan istrinya mengecek kadar
    gula dalam darah anaknya dan memberi Sam gula bila ternyata
    konsentrasinya terlalu rendah.
    ”Saya berpikir, tidak ada jalan
    untuk hidup, lalu saya putuskan untuk tidak hanya pasrah, tetapi harus
    berbuat sesuatu,” kata Melton kepada majalah Time.
    Sebagai
    ahli biologi molekuler, Melton terus meneliti sel punca embrionik
    dengan dukungan dana dari para alumni Universitas Harvard, Harvard Stem
    Cell Institute (HSCI), dan beberapa lembaga swasta lainnya. Ia juga
    menghasilkan 70 sel baru dan mendistribusikan 3.000 kopi kepada para
    ilmuwan di seluruh dunia secara gratis.
    Bahkan, pada tahun 2008,
    Kevin Eggan, kolega dari Melton di HSCI akhirnya menciptakan sel punca
    embrionik dari pasien tahun 2008. Dengan teknologi induced pluripotent stem cells (iPS cells), Melton dan rekannya berusaha melihat gambaran seluruh sel, tidak hanya sel punca, yang berpotensi sebagai terapi.
    DisetujuiPada
    23 Januari 2009, Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan (FDA) akhirnya
    menyetujui uji klinik terapi sel punca embrionik pada manusia. Meski
    otoritas setempat menyatakan hal itu tidak terkait perubahan konstelasi
    politik, kenyataannya perubahan kebijakan itu dilakukan setelah
    pelantikan Presiden Barack Obama.
    Kejelasan mengenai uji klinik
    terapi sel punca untuk mengatasi nyeri pada tulang belakang baru-baru
    ini diumumkan Geron, perusahaan bioteknologi yang pertama kali
    mengajukan permohonan kepada FDA untuk memulai uji klinik itu. Semula,
    FDA menolak dan meminta lebih banyak data.
    Direktur Eksekutif
    Geron Thomas Okarma menganggap keberatan dari pemerintahan semasa
    George W Bush berkuasa terhadap riset sel punca embrionik tidak
    berperan dalam penundaan persetujuan riset itu oleh FDA. Akan tetapi,
    pihak lain telah menduga persetujuan itu baru akan diberikan setelah
    pemerintahan baru mulai bekerja.
    "Persetujuan itu terkait
    perubahan pemerintahan. Kemungkinan Pemerintahan Bush telah menekan FDA
    untuk menunda uji coba itu," kata Direktur Program Riset Sel Punca
    California Robert Klein. Persetujuan FDA itu baru keluar setelah lebih
    dari 10 tahun lalu sel punca embrionik pertama kali diisolasi di
    Universitas Wisconsin.
    Sebelumnya, Presiden Obama telah berjanji
    untuk merevisi kebijakan Bush yang menolak membiayai riset sel punca
    embrionik. Meski demikian, sebagaimana dikutip kantor berita Associated
    Press, pemerintahan Obama menyatakan tidak pernah menekan FDA agar
    memberi izin studi baru itu.
    Faktanya, meski proyek sel punca
    telah memenuhi syarat untuk didanai pemerintahan Bush, tapi tidak ada
    kucuran dana federal untuk riset terapi eksperimental tersebut.
    Uji
    coba itu akan melibatkan 8-10 penderita nyeri tulang belakang. Sel-sel
    punca embrionik akan diinjeksi ke dalam tulang belakang pada punggung
    di lokasi yang sakit 7-14 hari setelah luka diobati. Oleh karena, ada
    bukti bahwa terapi itu tidak akan bekerja dengan baik bila nyeri itu
    telah terlalu lama terjadi.
    Hal itu akan dilakukan di empat
    sampai tujuh pusat kesehatan di Amerika Serikat. Pada studi dengan
    hewan coba yang mendapat satu kali injeksi, sel-sel akan mengalami
    proses pematangan dan memperbaiki kerusakan pada syaraf.
    ”Studi
    itu untuk menguji keamanan prosedur ini, tetapi tim dokter juga akan
    melihat apa ada tanda-tanda perbaikan seperti kembalinya kemampuan
    gerakan kaki,” kata Okarma sebagaimana dikutip International Herald Tribune. Apa pun hasilnya, studi itu akan menandai babak baru berlanjutnya sejarah riset sel punca embrionik di Amerika Serikat.
    EtikaSejauh
    ini, sel punca merupakan hasil riset dasar bidang biologi yang kemudian
    membawa terobosan besar bidang kedokteran. Sel punca adalah sel tidak
    terdiferensiasi yang bisa memperbanyak diri untuk menghasilkan sel
    punca lainnya. Berdasarkan asalnya, sel punca dibedakan atas sel punca
    embrionik dan sel punca dewasa.
    Sel punca embrionik adalah sel tunas yang diisolasi dari bagian inner cell mass (ICM) blastosis dan bisa berdeferensiasi jadi semua jenis sel.Adapun
    sel punca dewasa adalah sel tunas yang diisolasi dari jaringan dewasa
    seperti sumsum tulang atau darah, dan dapat memperbanyak diri, tetapi
    kemampuan diferensiasinya terbatas jadi jenis sel tertentu.
    Karena
    sel-sel itu bisa jadi beragam sel dalam tubuh, secara teoritis sel
    punca bisa menyediakan jaringan untuk mengganti sel-sel yang rusak
    dalam terapi diabetes, jantung, dan penyakit lain atau dikenal sebagai
    terapi regeneratif.
    Sel punca dewasa dianggap kurang optimal
    hasilnya dibanding sel punca embrionik dalam hal tipe jaringan yang
    dapat dibentuk. Akan tetapi, riset sel punca embrionik menimbulkan
    kontroversi karena embrio harus dihancurkan bila hendak diambil sel
    puncanya.
    Bila penggunaan blastosis tidak memungkinkan, teknologi
    yang dapat membantu penyediaan sel punca embrionik adalah transfer inti
    sel atau kloning. Namun, transfer inti sel atau kemampuan menghasilkan
    embrio tanpa lewat fertilisasi ini masih menimbulkan kontroversi.
    Awal ditemukan

    Kekuatan
    tersembunyi dalam setiap tubuh manusia itu tidak akan diketahui sampai
    tahun 1963, ketika peneliti dari Kanada Ernest McCulloch dan James Till
    untuk pertama kali membuktikan keberadaan sel punca di dalam darah.
    Dalam
    uji laboratorium, mencit yang jadi hewan coba dirusak sel-sel kekebalan
    tubuh mereka dan diinjeksi sel punca dari sumsum tulang.
    Hasilnya,
    ada pertumbuhan sel pada setiap bagian yang diinjeksi. Kemudian, tahun
    1998 isolasi sel punca embrionik pertama kali dilakukan James Thomson
    di Universitas Wisconsin-Madison.
    Umur embrionik yang digunakan
    adalah satu minggu. Tak lama kemudian, kelompok lain di Universitas
    John Hopkins juga berhasil mengisolasi sel punca embrionik dari embrio
    manusia umur 5-9 minggu.
    Pada Oktober 2007, Mario Capecchi,
    Martin Evans, dan Oliver Smithies meraih Hadiah Nobel Kedokteran untuk
    riset mereka mengubah gen-gen tertentu pada mencit memakai sel punca
    embrio hewan itu.
    Sayangnya sejak tahun 2005, riset bidang sel
    punca embrionik di AS tidak lagi dibiayai anggaran federal karena
    diboikot Presiden George W Bush yang terpilih lagi tahun 2004. Alasan
    yang dikemukakan adalah alasan etika.
    Hal ini didukung kalangan
    Kristen dan Katolik yang fanatik di AS yang menganggap embrio manusia
    tidak sepatutnya digunakan untuk eksperimen dan dihancurkan.
    Keputusan
    itu membuat banyak ilmuwan hengkang dari AS dan pindah ke Inggris,
    Singapura, dan China di mana pemerintah setempat menerima aktivitas
    penelitian mereka.
    Para ilmuwan lain yang tetap bertahan di AS kurang mendapat dukungan dana dari pihak swasta untuk meneliti sel punca embrionik.Di
    tengah kontroversi itu, tahun 2004, peneliti Korea Selatan Hwang Woo
    Suk mengumumkan telah menghasilkan sel punca embrionik pertama kali
    dari orang sehat dengan memakai metode kloning.
    Berita ini sempat
    menggemparkan dunia, tetapi belakangan terbukti hal itu adalah
    kebohongan dan diakui Hwang sebagai kesalahan fatal.
    Pada
    November 2007, berita gembira datang dari Jepang saat dua ilmuwan
    Jepang, Shinya Yamanaka dan Kazutoshi Takahashi, serta James Thomson
    secara terpisah mengumumkan keberhasilan mereka menciptakan aneka jenis
    sel somatik dari sel punca hasil pemrograman ulang sel somatik dari
    sel-sel kulit manusia.
    Temuan ini merupakan terobosan besar dalam
    terapi regeneratif tanpa dibebani masalah etik karena tidak memakai
    sel-sel punca dari pembiakan embrio. Saat ini, banyak negara, seperti
    Italia dan Swiss, melarang penelitian sel punca embrionik dan kloning
    pada manusia.
    Demi kesembuhan para penderita berbagai penyakit
    yang selama ini kehilangan harapan hidup, sejumlah negara di dunia kini
    berlomba-lomba mengembangkan uji klinik sel punca.
    Tentunya,
    dalam menjalankan risetnya, peneliti harus mematuhi berbagai aturan
    atau batasan yang berlaku secara nasional dan internasional yang di
    dalamnya pun terdapat unsur-unsur etika.*

      Current date/time is Fri Dec 09, 2016 10:22 pm