Profauna Minta Parpol Tidak Mengeksploitasi Satwa

    Share


    Registration date : 1970-01-01

    hot tread Profauna Minta Parpol Tidak Mengeksploitasi Satwa

    Post by  on Thu Feb 05, 2009 12:55 am

    MALANG, RABU - Menjelang pemilihan umum April 2009,
    satwa liar terancam dieksploitasi oleh partai-partai politik (parpol)
    guna mendongkrak perolehan suara. Untuk itu Profauna, organisasi
    perlindungan satwa di Indonesia, pada Rabu (4/2) menggelar aksi
    simpatik menyeru agar parpol peduli pelestarian hutan dan satwa tidak
    mengeksplotasinya untuk kepentingan politik.
    Dalam aksinya,
    aktivis profauna memakai atribut satwa liar sambil membentangkan
    spanduk seruan di depan Balaikota Malang. "Satwa-satwa liar terancam
    dieksploitasi oleh partai-partai politik dalam kampanye menjelang
    pemilu 2009. Ini berdasar kasus pemilu 2004 lalu di mana Profauna
    menemukan 50 kasus satwa dieksploitasi untuk kepentingan politik," ujar
    Juru Kampanye Profauna, R.Tri Prayudhi, Rabu di Malang.
    Menurut
    Prayudhi, tahun 2004 lalu satwa-satwa seperti elang, ular, orang utan,
    dan sebagainya, banyak dibawa-bawa saat kampanye untuk menarik massa.
    "Untuk itu kami kali ini menyerukan agar tidak ada lagi eksploitasi
    satwa liar seperti itu. Ini berbahaya bagi satwa karena bisa membuatnya
    stres dan merupakan kekejaman terhadap satwa liar," ujar Prayudhi.
    Eksploitasi
    terhadap satwa liar itu pun dinilai melanggar Undang-Undang nomor 5
    tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
    Dalam UU tersebut dinyatakan bahwa orang dilarang menyimpan, memelihara
    dan mengangkut satwa dilindungi. Pelanggaran ketentuan itu diancam
    hukuman lima tahun penjara serta denda Rp 100 juta.
    "Hingga kini
    kami melihat belum ada kepedulian parpol terhadap perlindungan satwa
    dan hutan. Yang ada justru mereka dieksploitasi misalnya gambar-gambar
    mereka dijadikan ikon partai, namun tidak ada langkah nyata terhadap
    perlindungan satwa tersebut," imbuh Prayudhi.
    Ketua Profauna
    Indonesia, Rosek Nursahid menambahkan bahwa degradasi hutan dan satwa
    merupakan suatu bencana ekologi dan ekonomi bagi bangsa. "Dari tahun ke
    tahun kita tahu bahwa penyusutan hutan dan kepunahan satwa liar terus
    terjadi," ujar Rosek.
    Berdasar data Departemen Kehutanan pada
    tahun 2003, luas Indonesia 120,35 juta hektar (ha), dengan kerusakan
    sebesar 43 juta ha. Data tahun 2006 dari Badan Pangan Dunia (FAO),
    hutan di Indonesia hilang 1,87 juta ha per tahun. Luas hutan Indonesia
    diprediksi ting gal 88 juta ha. Akibatnya, tahun 2007 Indonesia
    mendapat gelar sebagai negeri pengahncur hutan tercepat oleh Guinnes World Record.
    Penyusutan
    hutan ini menurut Profauna berjalan seiring terancam punahnya satwa
    liar akibat kehilangan habitat, ditambah lagi ancaman perburuan liar
    untuk perdagangan. Data dari IUCN Red List tahun 2008 yang dikutip
    Profauna, ada 1087 spesies satwa Indonesia terancam punah.
    Spesies-spesies tersebut antar alainnya 183 jenis mamalia, 115 burung,
    27 reptil, 33 amfibi, dan 111 ikan.
    "Dengan kondisi itu,
    ironisnya hingga kini tidak terlihat adanya parpol yang peduli hutan
    dan satwa liar, minimal dalam visi dan misinya," ujar Rosek.

      Current date/time is Sun Dec 04, 2016 4:47 am