Banjir dan Kebangkrutan Air

    Share


    Registration date : 1970-01-01

    hot tread Banjir dan Kebangkrutan Air

    Post by  on Thu Feb 05, 2009 12:56 am

    Hari-hari ini, salah satu berita yang menonjol adalah bencana banjir.
    Bengawan Solo yang meluap merendam kota-kota yang dilaluinya di Jawa
    Tengah dan Jawa Timur. Inilah fenomena yang sebenarnya telah ada
    bersama kita sejak bertahun-tahun silam.

    Dari pengalaman ini,
    salah satu hal yang melegakan adalah bahwa sebenarnya musim masih
    berjalan normal-normal saja, ditandai oleh meningkatnya curah hujan
    pada bulan Januari dan Februari. Yang bisa dicermati lebih lanjut
    mungkin intensitas hujan itu sendiri, yang diyakini terkait dengan
    munculnya gejala perubahan iklim akibat pemanasan global.

    Pengalaman
    manusia dengan air secara umum bisa dibagi dalam dua ekstrem. Yang
    pertama adalah masa kerepotan karena dihantam oleh air dalam jumlah
    besar, apakah itu dalam wujud air bah, banjir besar, atau hantaman
    gelombang besar tsunami seperti yang terjadi di Aceh akhir tahun 2004.
    Yang kedua adalah masa kesusahan akibat kelangkaan air, seperti saat
    muncul gejala El Nino tahun 1982 yang menyebabkan musim kemarau panjang.

    Ke
    depan, kedua ekstrem itu pula yang akan terus mewarnai kehidupan di
    Bumi. Di satu sisi, manusia akan mendapat kelebihan air akibat
    pemanasan global yang akan melelehkan es di kutub dan di puncak gunung.
    Laporan terakhir menyebutkan, sebagian selimut es di Pegunungan
    Himalaya dan Tibet akan lenyap pada tahun 2100 dengan tingkat pelelehan
    yang ada sekarang ini, dan itu akan memberi air bagi 2 miliar penduduk
    dunia.

    Pada sisi lain, laporan yang terbaru juga menyebutkan
    bahwa manusia akan dilanda kelangkaan air parah karena air disebut akan
    bangkrut, tidak ada lagi. Tentunya di sini yang dimaksud adalah air
    yang bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari dan bisa diperoleh
    secara ekonomis.

    Dari Davos

    Laporan baru
    yang dimaksud disampaikan Jumat di Forum Ekonomi Dunia (WEF) yang
    berlangsung di Davos, Swiss, 28 Januari–1 Februari 2009. Penyebab
    kebangkrutan air adalah tingginya kebutuhan seiring dengan meningkatnya
    jumlah penduduk dunia. Kelangkaan air ini, dalam 20 tahun mendatang,
    akan menyebabkan hilangnya tanaman pangan sebanyak yang bisa dihasilkan
    oleh India dan Amerika Serikat.

    Ini tentu memprihatinkan karena
    justru dalam beberapa tahun ke depan kebutuhan pangan akan melonjak
    drastis. Menurut laporan yang dimuat kantor berita AFP ini, di masa
    depan dunia tidak akan bisa lagi mengelola air dengan cara yang sama
    seperti pada masa lalu.

    Yang bisa jadi berbeda adalah persepsi
    mengenai harga air. Laporan dari Davos menyebut di sejumlah tempat di
    dunia air dijual terlalu murah dan banyak yang dihambur-hamburkan.
    Padahal, mungkin warga di sekitar Tanjung Priok menganggap air yang
    mereka beli sekarang ini pun sudah mahal.

    Akibat dijual murah
    dan digunakan berlebihan, di banyak tempat selama sekitar 50 tahun
    terakhir ini terjadi bubble (gelembung) air—meminjam istilah
    ekonomi—dan dikhawatirkan akan diikuti dengan kebangkrutan.

    Penggunaan
    air dalam jumlah besar terjadi untuk proses pembangkitan energi. Di AS
    proses ini membutuhkan air 39 persen dari semua air yang digunakan di
    negeri adidaya ini, sementara di Uni Eropa 31 persen. Padahal, jumlah
    air yang dikonsumsi hanya 3 persen.

    Kebutuhan energi juga akan
    terus naik, demikian pula kebutuhan air. Hal ini membuat air yang
    diarahkan untuk pertanian akan berkurang.

    Sungai mengering

    Kalau
    di atas disinggung tentang melelehnya gletser Himalaya, bagian lain
    Laporan WEF ini juga menyebutkan, sekitar 70 sungai besar di dunia
    diperkirakan akan mengering total karena airnya disedot untuk irigasi
    dan reservoir.

    Karena semakin langka, dalam dua dekade mendatang
    air akan dijadikan obyek investasi, yang bahkan mungkin nilainya lebih
    baik dibandingkan minyak.

    Sekretaris Jenderal Perserikatan
    Bangsa-Bangsa Ban Kimoon berpendapat, masalah air bersifat luas dan
    sistemik, dan karena itu penanggulangannya pun harus luas dan sistemik.

    Kalangan
    usaha pun sepandangan bahwa dengan pengelolaan seperti yang ada
    sekarang ini, air bisa lebih cepat habis dibandingkan bahan bakar.
    Untuk mencegahnya, dibutuhkan kerja sama luas antara pemerintah,
    industri, akademik, dan pemangku kepentingan di seluruh dunia, ujar
    pimpinan PepsiCo Inc, perusahaan AS yang usahanya menggunakan air dalam
    jumlah besar.

    Dicerna lebih jauh

    Situasi
    yang dihadapi umat manusia berkaitan dengan air boleh jadi memang
    membingungkan karena di satu sisi dihadapkan pada ancaman perendaman
    wilayah pesisir akibat pemanasan global, tetapi pada sisi lain juga
    kelangkaan air.

    Di kolom ini (27/11/2007) diangkat kekhawatiran
    Aliansi Negara Kepulauan Kecil saat mengadakan pertemuan puncak di ibu
    kota Maladewa, Male. Negara-negara yang perekonomiannya banyak
    bersandar pada turisme dan perikanan mengantisipasi datangnya ancaman
    naiknya permukaan air laut akibat melelehnya tudung es kutub.

    Sejauh
    ini naiknya suhu udara sebesar 0,6 derajat celsius selama abad kemarin
    telah membuat permukaan air laut naik sekitar 20 cm. Namun, kalau es
    Greenland meleleh, lebih dahsyatlah akibatnya. Kenaikan sampai lebih
    dari 1 meter amat mungkin, bahkan kalau es Greenland meleleh total,
    kenaikan muka air laut bisa mencapai 7 meter! (NG News, 3/2/2009)

    Baik
    ancaman kebanjiran maupun kelangkaan air akan sama-sama menyeramkan.
    Selama proses itu berlangsung, bisa kita bayangkan ketegangan
    sosial-ekonomi yang terjadi. Misalnya saja potensi terjadinya konflik
    akibat rebutan sumber air, atau tekanan ekonomi yang meningkat karena
    orang harus mengeluarkan dana besar untuk mendapatkan air.

    Kita
    berharap seruan kerja sama berbagai pihak tanpa mengulur waktu mulai
    dari sekarang masih bisa mengurangi dampak kesengsaraan potensial yang
    dimunculkan oleh kedua permasalahan ekstrem yang ditimbulkan oleh air
    ini. Adanya kajian lebih serius yang diikuti oleh kebijakan konkret
    merupakan wujud kepedulian nyata.

      Current date/time is Sun Dec 04, 2016 12:38 am