Telaah Mistis Ibadah Haji

    Share

    -RD-
    FB3 Staff
    FB3 Staff

    Female
    Jumlah posting : 959
    Age : 29
    Location : Batam~jogyakarta
    Job/hobbies : shopyng =))
    Registration date : 2008-11-09

    hot tread Telaah Mistis Ibadah Haji

    Post by -RD- on Fri Feb 06, 2009 2:24 pm

    BANYAK yang berkomentar bahwa pada saat menunaikan ibadah haji sering terjadi hal-hal yang aneh (mistik) yang dialami jemaah haji. Kejadian ada yang baik, buruk, bahkan yang merugikan dan menyengsarakan. Konon itu semua merupakan balasan Allah SWT atas perbuatan sang jemaah haji pada masa lalu saat belum berangkat ibadah haji. Hal itu bisa benar bisa juga salah. Benar karena banyak yang mengalami hal demikian. Dan salah karena mekkah bukanlah tempat untuk menghukum seorang hamba atas kesalahannya. Bukankah Allah SWT akan menghisab makhluknya saat di alam barzah dan alam akhirat?
    Memang, bila dicermati di dalam ibadah haji seorang muslim dihadapkan pada berbagai bentuk ibadah yang penuh dengan misteri (baca: mistik) dan sulit dijangkau akal manusia semata. Saat pelaksanaanya terdapat beberapa ritual (amaliah) yang sungguh susah diterima secara logika, seperti pakaian ihram yang tanpa jahit, sai, thawaf, jumrah, wuquf, takhallul dan lain-lain. Di dalamnya juga terdapat benda-benda tertentu yang secara fardu ataupun tidak akan bersentuhan dengan jemaah haji, seperti Kabah, Hajar Aswad, Maqom Ibrahim, sumur Zam-zam, Multazam, Maglev Madinah, Arafah dan lain sebagainya, yang juga memendam beribu misteri. Tapi satu hal yang pasti bahwa di balik misteri itu banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Namun, hanya Allah sendirilah yang Maha Mengetahuinya.
    Contoh satu saja, Kabah. Sebuah bangunan yang sudah berusia ribuan tahun. Adakah sebuah karya sehebat Kabah yang setiap tahunnya menyedot jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia selama ribuan tahun. Berapa banyak sudah harta benda dan aktifitas kehidupan yang mengitarinya selama itu, terpancar akibat kerinduan hamba-hamba Allah di permukaan bumi. Adakah juga karya sedahsyat bangunan yang dibangun oleh nabi Adam ini (meskipun tidak ditemukan sejarah otentiknya - Alquran menjelaskan bahwa dibangun oleh nabi Ibrahim bersama putranya nabi Ismail, Al Baqoroh: 127).

    Kabah bergetar

    Ada suatu cerita yang sangat menarik, pada zaman Abdullah Bin Zubair ra melakukan renovasi terhadap bangunan yang memiliki tinggi 27 hasta itu (waktu dibangun nabi Ibrahim hanya 9 hasta, telah mengalami, pembangunan dan renovasi berulangkali selama ribuan tahun, sejak dibangun oleh nabi Ibrahim). Ketika beliau (Abdullah Bin Zubair) menghancurkan Kabah dan meratakannya dengan tanah. Beliau menemukan pondasi peninggalan Nabi Ibrahim yang terdapat di dalam Hijr Ismail, sekitar enam hasta. Batu-batu tersebut berbentuk seperti leher unta, berwarna merah. Satu dengan yang lainnya saling bersilang seperti persilangan jari-jari. Salah seorang dari mereka, Abdullah bin Muthi’ Al Adawi meletakkan sebuah tongkat besi yang dipegangnya untuk mendongkel pondasi di salah satu sudut Kabah. Namun ternyata ada kejadian yang sangat aneh dan mistis. Seluruh bangunan Kabah bergerak. Seluruh sudutnya ikut bergetar. Bahkan yang lebih mengejutkan seluruh Kota Mekkah juga ikut bergetar dengan getaran yang dahsyat. Akhirnya pembongkaran pondasi dibatalkan, dan dilanjutkan dengan pembangunan di atas pondasi yang telah ada. Agaknya memang pondasi itulah yang menjadi esensi dan kunci dari bangunan Kabbah, subhanallah. Seberat apapun kadar mistisnya, dan setajam apapun daya logikanya, sesungguhnya imanlah yang harus menjadi bahan parameternya.
    Pada saat melakukan Haji Wada’, Nabi Muhammad ditemani lebih kurang 90.000 orang. Allah SWT tidak pernah membatasi jumlah jemaah haji. Bahkan beliau mengajarkan, haji sekali itu melunasi utang kepada Allah. Haji kedua itu “mengutangi Allah”. Dan haji ketiga membebaskan kulit dan setiap helai rambut dari api neraka. Yang jadi masalah adalah bahwa saat ini jumlah penduduk dunia semakin membludak, bukan semakin berkurang. Dan otomatis jumlah calon jamaah haji eskalasinya semakin menaik. Sementara kapasitas medan haji relatif tetap. Bagaimana manusia mengantusipasi hal itu kira-kira 50 tahun, l00 tahun, atau 200 tahun ke depan?
    Ir. H. Bambang Pranggono, M.B.A, IAI (2005), seorang akademisi pendiri Fakultas Teknik Unisba pernah melakukan telaah futuristik kecil-kecilan tentang haji di tahun 2200. Dan hasilnya sungguh menakjubkan. Bahwa, jumlah jamaah haji dari tahun ke tahun menunjukkan tren peningkatan. Kementrian Perencanaan Pemerintah Saudi Arabia mencatat peningkatan jumlah jemaah haji, baik domestik maupun dari luar negeri yang paling tajam adalah sejak tahun 1970-an dan tahun-tahun berikutnya kian meningkat.
    Menurut World Religious Statisticks, di tahun 1900, prosentase umat muslim di dunia berjumlah 12,4% dari seluruh penduduk. Disinyalir akan menjadi 23,5% di tahun 2200. Bila didesimalkan jumlah muslim 200 tahun yang akan datang diperkirakan mendekati tiga miliar orang. Bila dihitung yang sudah memenuhi syarat haji, maka di tahun 2200 diperkirakan ada satu miliar orang umat Islam yang akan menunaikan ibadah haji. Jumlah yang sangat fantastis. Akan ditampung di mana manusia sebanyak itu, berkumpul dalam waktu yang relatif bersamaan.
    Perluasan Masjidil haram sudah dilakukan sejak tahun 638 oleh Umar bin Khattab, dari 604 m2 menjadi 945 m2. Selanjutnya perluasan berturut-turut oleh khalifah dan raja sampai akhirnya 328.000 m2 dengan kapasitas 1.000.000 orang (tahun 1993) . Masjid Nabawi di Madinah juga diperluas sehingga kini bisa menampung 650.000 orang salat sekaligus. Untuk mengantisipasi pertambahan haji dalam 20 tahun ke depan, pemerintah Kerajaan Saudi Arabia akan memugar Mekkah-Mina-Muzdalifah-Arafah sehingga menampung 14 juta jamaah haji dan umrah dalam setahun. Dr. Osama al Bar, Direktur Pusat Riset Haji Malik fahd menyebutkan, dalam tempo empat tahun, jembatan jamarat di Mina akan dibangun empat lantai sehingga bisa menampung 500.000 jemaah per jam. Lubang pelontaran akan dibuat berbentuk oval, 46 m x 14 m, dan ada jalur pemisah antara yang masuk dan keluar. Juga dalam tempo dua tahun akan dibangun 10 gedung modern bertingkat dengan daya tampung 500.000 jemaah di dekat Jamarat melengkapi tenda-tenda tahan api yang sudah ada.
    Solusi antisipasi
    Lalu bagaimana dengan sai, thawaf, jumrah, dan wuquf? Bagaimana cara perluasan area dan sarananya? Masih menurut Bambang, ada empat alternatif solusi mengantisipasi haji tahun 2200. Pertama solusi administratif yakni satu persatu dari jumlah penduduk suatu negara dan digilir, dari jumlah 2,7 miliar muslim dunia di tahun 2200 yang boleh haji 2,7 juta orang, dan sisanya yang 2, 697 miliar harus antri.
    Kedua, solusi teknologi, dengan cara perluasan kapasitas Masjidil Haram - Arafah - Muzdalifah - Mina untuk menampung satu miliar jemaah haji. Saat ini daya tampung masjidil haram hanya satu juta orang salat. Untuk menampung satu miliar jemaah di tahun 2200, maka harus dibangun 100 lantai di atas dan 100 lantai di bawah tanah. Jembatan jumrah pun harus dibuat 40 lantai untuk dapat menampung satu miliar jemaah. Saat ini proyek jembatan jumrah hanya 4 lantai untuk menampung 12 juta orang per hari. Batu kerikil untuk melempar jumrah harus tersedia 70 miliar butir yang diproduksi secara masal oleh pabrik batu sintesis raksasa dengan ukuran seragam.
    Hewan kurban harus diproduksi massal dengan metoda kloning guna memenuhi jumlah 140 juta ekor unta dan 1 miliar domba. Daging kurban diproses secara kilat menjadi butiran kapsul bahan makanan bergizi, untuk didistribusikan kepada spesies lain di bumi dan makhluk di planet-planet lain, karena di bumi tidak ada manusia yang miskin lagi (berdasarkan ramaan Rasulullah bahwa di akhir zaman orang Islam akan sedemikian kaya, sampai-sampai bersusah payah untuk mencari para mustahik).
    Ketiga, solusi fatwa, yaitu dengan mengeluarkan fatwa mengenai modifikasi waktu pelaksanaan haji berdasarkan ijtihad. Misalnya mengkaji ulang Q.S AlBaqoroh: 197, “Haji adalah pada bulan-bulan yang ditentukan”. Masdar F. Mas’udi (PBNU) pernah melontarkan ide ijtihad waktu pelaksanaan haji boleh di luar bulan Dzulhijjah, yakni Syawal dan Dzulqo’idah. Sementara Dr. Izzat Athiyyah, Gubernur Ilmu Hadits Fakultas Ulumuddin Universitas Al-Azhar, Kairo mengusulkan melontar jumroh boleh diwakilkan dan boleh menggunakan alat seperti katepel misalnya, sehingga bisa melontar dari jarak jauh 20 meteran. Ide-ide kreatif semacam itu harus dikembangkan.
    Keempat, solusi virtual. Manusia akan bertambah banyak di masa depan. Di lain pihak teknologi akan semakin mempermudah mobilitas dan membuka alternatif-alternatif yang tak terbayangkan, sekarang. Encyclopedia of The Future meramalkan, menjelang tahun 2200 teknologi Laser Holographic sudah mencapai puncak, sehingga akan populer ziarah secara holografis. Ka’bah akan dibuat secara hologram, dapat thawaf dan mencium hajar aswad dari jarak jauh secara virtual reality. Pesawat dengan teknologi mutakhir akan tercipta, seperti teknologi simulator bagi pilot pesawat terbang saat ini, yang membawa si pemakai peralatan (helm) seolah-olah mengalami pengalaman nyata yang semu. Semua syaraf indera dan pikiran mendapat simulasi yang tak ubahnya seperti kenyataan . Sehingga ibadah haji dapat dilakukan dengan jarak jauh dengan virtual secara real time, karena untuk menunaikan ibadah haji harus menunggu 1.000 tahun yang akan datang dan kalaupun mendapat giliran pada pelaksanaannya amat sangat berdesak-desakan. Wallahu ‘alam.

      Current date/time is Fri Dec 09, 2016 10:23 pm