Bantaran Sungai di Gresik Dibuat Hutan Tani

    Share


    Registration date : 1970-01-01

    hot tread Bantaran Sungai di Gresik Dibuat Hutan Tani

    Post by  on Fri Feb 06, 2009 6:15 pm

    GRESIK, JUMAT Untuk mengantisipasi penjarahan
    bantaran Kali Surabaya di wilayah Kecamatan Driyorejo dan Wringinanom,
    Kabupaten Gresik, Jumat (6/2), dicanangkan program hutan tani di Desa
    Sumengko Kecamatan Wringinanom. Program ini digagas SMA Negeri
    Wringinanom dan Lembaga Konservasi untuk Lahan-lahan Basah Ecoton.
    Direktur
    Eksekutif Ecoton Prigi Arisandi menyatakan, program itu didasari
    kekhawatian atas maraknya penjarahan bantaran Kali Surabaya di Wilayah
    Kecamatan Driyorejo dan Wringinanom Kabupaten Gresik. Pendirian
    bangunan di bantaran Kali Surabaya semakin tak terkendali.
    Berdasarkan
    data Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Jawa Timur, dua tahun lalu saja
    sudah tercatat 8.674 bangunan berdiri di sepanjang kawasan lindung Kali
    Surabaya. Bangunan yang berdiri di Mojokerto sebanyak 68 unit, Sidoarjo
    (1.855), Gresik (1.191) dan Surabaya (3.678 unit).
    Bangunan
    pabrik yang yang berdiri di sepanjang bantaran Kali Surabaya tercatat
    sembilan pabrik di Sidoarjo, 17 di Gresik, dan 50 di Surabaya. Bangunan
    mess karyawan tercatat satu unit di Surabaya. Bangunan tempat usaha di
    Mojokerto tercatat 19 unit, Sidoarjo (217), Gresik (49) dan Surabaya
    (260 unit), sedangkan bangunan tempat tinggal tercatat 49 unit di
    Mojokerto, Sidoarjo (1.629), Gresik (1.125), dan Surabaya (3.367 unit).
    Menurut
    Prigi, fakta tersebut mengindikasikan tidak ada upaya pengawasan dan
    pengendalian pemanfaatan lahan di bantaran Kali Surabaya oleh
    Pemerintah dalam hal ini Perum Jasa Tirta dan Dinas Pekerjaan Umum
    Pengairan Jawa Timur. Maka diperlukan keterlibatan masyarakat dalam
    pengawasan pemanfaatan bantaran. "Oleh karena itu Ecoton dan SMA Negeri
    1 Wringinanom menawarkan program Hutan Tani Bantaran," katanya.
    Pada
    peluncuran hutan tani bantaran, Jumat (6/2), ditanam 300 tanaman jenis
    nangka, sukun, mangga, dan kinco; juga 12 jenis tumbuhan obat, seperti
    daun dewa, daun sendok, daun gingseng, dan daun mint. Penanaman
    dilakukan di lahan bantaran di sepanjang Kali Surabaya Desa Sumengko,
    Kecamatan Wringianom, sepanjang 1 kilometer.
    Camat Wringinanom
    Moeshoffah Aziz mendukung prakarsa SMA Negeri Wringinanom dan Ecoton.
    Dia akan menginstruksikan semua kepala desa di sepanjang bantaran Kali
    Surabaya di Wringinaniom menghadirkan hutan tani bantaran di wilayah
    masing-masing. Kepala Desa Sumengko Hendro Wahyudi akan mengembangkan
    program ini dengan melibatkan pemuda dan tokoh masyarakat sehingga akan
    tercipta sebuah gerakan menjaga kelestarian bantaran Kali Surabaya.
    Menurut
    Prigi, untuk menyelamatkan bantaran Kali Surabaya di wilayah Sidoarjo
    dan Gresik, dibutuhkan pendekatan pemanfaatan bantaran dengan
    melibatkan masyarakat agar tidak mengganggu fungsi ekologis sungai.
    Pendekatan itu disebut hutan tani bantaran (HTB), yakni penggunaan
    lahan bantaran yang mampu menjaga fungsi cathment area (daerah
    tangkapan air) dengan cara menghutankan kembali bantaran sungai.
    "Kendati demikian tetap memberikan ruang bagi budidaya tanaman
    pertanian yang dapat memberikan keuntungan ekonomis bagi masyarakat
    sekitar sungai," kata Prigi.
    Menurutnya, masyarakat bisa
    memanfaatkan dan mengelola bantaran dengan tanaman heterogen, terdiri
    dari tanaman yang bernilai ekonomis yang dapat meningkatkan pendapatan
    warga, seperti tanaman semusim yang umum dikembangkan, yaitu jagung,
    kacang tanah, terung, lombok, tomat, dan ketela pohon. Tanaman lain
    yang ditanam dalam satu lahan yang dikelola adalah tanaman berfungsi
    ekologis, memiliki perakaran kuat dan mampu menahan longsor bibir
    sungai, seperti bambu dan waru.
    HTB merupakan sistem pengolahan
    lahan bersama antara masyarakat, pemerintah desa, Perum Jasa Tirta dan
    Dinas Pekerjaan Umum Pengairan, serta pihak ketiga, seperti sekolah,
    perguruan tinggi, dan perusahaan di sekitar sungai. Sekolah di sekitar
    sungai dapat memanfaatkan hutan bantaran sungai sebagai laboratorium
    alam. Mereka bisa belajar cara bercocok tanam, eksplorasi
    keanekaragaman hayati di bantaran sungai.
    Perguruan tinggi bisa
    membantu asistensi optimalisasi hasil tanaman yang dibudidayakan atau
    pengelolaan hasil panen menjadi produk pangan olahan.
    Perusahaan-perusahaan sekitar sungai yang memiliki program CSR
    (Corporate Social Responsibility) dapat memberikan bantuan dana
    bergulir untuk awal pengembangan program HTB selama dua tahun, berupa
    pengadaan bibit, perawatan, dan pengolahan hasil panen. Dengan model
    HTB, masyarakat akan secara swadaya ikut membantu mengawasi pemanfaatan
    bantaran sungai agar bantaran kali tidak terjarah.
    Prigi
    menegaskan, bantaran Kali Surabaya berfungsi sebagai kawasan lindung
    yang berperan sebagai daerah resapan. Banjir yang terjadi akhir Januari
    lalu diakibatkan hilangnya daerah tangkapan air. Hal ini sesuai
    Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1991 tentang Sungai yaitu boleh
    memanfaatkan lahan di bantaran untuk kepentingan masyarakat tanpa
    merusak fungsi sungai.

      Current date/time is Thu Dec 08, 2016 2:49 pm