Kepala BNPB: Kita Harus Akrab dengan Bencana

    Share


    Registration date : 1970-01-01

    hot tread Kepala BNPB: Kita Harus Akrab dengan Bencana

    Post by  on Fri Feb 06, 2009 6:19 pm

    LAMONGAN, JUMAT Kepala Badan Nasional
    Penanggulangan Bencana Mayor Jenderal Syamsul Maarif menyatakan
    prihatin kepada korban bencana luapan Bengawan Solo di Lamongan dan
    Bojonegoro. Syamsul, Jumat (6/2), menyerahkan bantuan pada kedua
    wilayah banjir ini masing-masing dua lembar cek senilai total Rp 100
    juta. Di Lamongan, cek diserahkan kepada Wakil Bupati Lamongan Tsalist
    Fahami Zaka di lokasi banjir Desa Truni Kecamatan Babat. Adapun di
    Bojonegoro diserahkan langsung kepada Bupati Bojonegoro Suyoto, di
    rumah dinas Bupati Bojonegoro.
    Syamsul, selain menyatakan
    keprihatinannya, bantuan itu hanya stimulus. Dia juga meminta
    masyarakat mulai menyadari tentang lingkungan, seperti mendirikan
    bangunan tidak di wilayah yang rentan bencana seperti di bantaran.
    Model bangunan di daerah gempa harus dirancang tahan gempa. "Saya
    merasa bangga pada masyarakat Desa Truni yang bergotong royong
    menguatkan tanggul agar dampak luapan Bengawan Solo bisa dikendalikan,"
    kata Syamsul.
    Menurut dia, masyarakat perlu mulai menyadari dan akrab serta bersahabat dengan bencana, hidup berdampingan dengan bencana (living together with disaster).
    "Kenapa demikian, kini ada perubahan iklim yang tidak bisa ditebak dan
    pergeseran musim. Kita tidak bisa lagi percaya penuh pada siklus.
    Semuanya berubah, dulu banjir hanya dari sungai, kini banjir bisa
    timbul akibat rob. Indonesia juga sering diguncang gempa karena berada
    di lempeng yang mudah gerak dan banyak gunung api," katanya
    mencontohkan.
    Oleh karena itu, pemerintah dalam membuat kebijakan
    pembangunan perlu didasari risiko penanggulangan bencana.
    Penanggulangan bencana menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga
    perlu keterlibatan masyarakat. Penanggulangan bencana menuntut peran
    aktif pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, dan pusat.
    Syamsul
    membantah bahwa penanganan bencana luapan Bengawan Solo yang tejadi
    hampir setiap tahun lambat. Menurut dia, antisipasi yang dilakukan
    sebenarnya sudah bagus, apalagi didukung teknologi dan kecepatan akses
    informasi.
    Namun, jalan keluar menyelesaikan persoalan bencana
    tidak semudah yang dibayangkan. Untuk mencegah banjir, dibuat waduk
    lagi, misalnya, apakah tidak muncul persoalan baru karena menyangkut
    sejarah kehidupan masyarakat. "Kalau tanggul ditinggikan dan
    dilebarkan, apakah warga di sekitar bantaran sungai di dalam tanggul
    mudah direlokasi," katanya.

    ACI

      Current date/time is Sun Dec 11, 2016 8:44 pm