pengobatan rasional agar tdk salah obat !!

    Share

    -RD-
    FB3 Staff
    FB3 Staff

    Female
    Jumlah posting : 959
    Age : 29
    Location : Batam~jogyakarta
    Job/hobbies : shopyng =))
    Registration date : 2008-11-09

    hot tread pengobatan rasional agar tdk salah obat !!

    Post by -RD- on Mon Mar 09, 2009 7:26 pm

    Pengobatan rasional, seperti apa?

    Oleh sebab itu, pasien harus memahami benar prinsip-prinsip pengobatan yang baik dan benar (rational use of drug). Kriterianya antara lain obat yang diberikan oleh dokter harus sesuai dengan diagnosa penyakit, dikonsumsi secara tepat, dosisnya tepat, jangka waktu pemberiannya tepat, harganya semurah mungkin, dan disertai pemberian informasi yang obyektif. Tujuannya, agar pasien tahu mengapa ia mendapat obat tersebut, apa manfaatnya, dan apa yang harus dilakukan agar obat tersebut berkhasiat secara efektif dan aman.

    Tujuan itu dapat tercapai, bila dokter mengobservasi pasiennya secara kritis dan maksimal. Melalui pemeriksaan fisik dan tanya-jawab yang detil dan mendalam, dokter bisa menemukan penyebab penyakit untuk menentukan diagnosa. Diagnosa inilah yang sangat menentukan langkah terapi selanjutnya; apakah masih perlu pemeriksaan penunjang (cek laboratorium), perlu diberi obat atau tidak, juga tindakan yang lebih serius.

    Bila memang tidak diperlukan, dokter tidak boleh meresepkan obat walaupun hanya berupa suplemen atau imunomodulator dengan dalih menguatkan imunitas tubuh. Sementara bila diagnosa menyatakan bahwa pasien memerlukannya, dari ribuan obat yang ada dokter harus menentukan obat mana yang paling efektif, aman, murah, dan mudah diberikan.

    Selanjutnya, dalam memberi resep, dokter harus memberi penjelasan pada pasien mengenai manfaat, petunjuk mengkonsumsi, kontraindikasi, serta tindakan yang harus dilakukan seandainya terjadi reaksi efek samping.

    Anda pernah diminta check-up? Bersyukurlah, karena itu menjadi metode dokter dalam menilai terapi sebelumnya dan menyimpulkan hasilnya. Bila penyakit masih hinggap, dokter harus meninjau kembali diagnosa yang ditentukan sebelumnya. Sementara itu, kepatuhan pasien dalam menjalani terapi juga harus dievaluasi.

    Trik menghadapi dokter

    Kesannya memang repot. Tapi itulah harga yang harus dibayar demi kesehatan. Sayangnya, sekarang dokter yang mau menjalankan prosedur sedetil ini jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Dengan alasan banyak pasien, waktu konsultasi yang seharusnya menjadi poin utama dalam menentukan diagnosa justru sama sekali tidak tercukupi. Kendala lain, komunikasi pasien dan dokter macet karena dokter bersikap diam, sehingga pasien merasa segan.

    Lalu bagaimana cara menyiasatinya? Dr Marius mengingatkan, bahwa kedudukan pasien sebenarnya sama seperti konsumen. Sehingga sebelum membayar suatu barang atau jasa, pasien harus bersikap kritis. "Sebagai pasien, Anda tidak harus selalu menerima atau puas dengan apa yang dilakukan dokter.

    Seperti membeli barang, Anda juga berhak mengetahui banyak hal sebelum membawa pulang obat. Garis besarnya antara lain:

    1. Tanyakan diagnosa penyakit dalam istilah kedokteran, supaya Anda bisa mencari tambahan informasi yang akurat. Diagnosa dalam istilah awam sering rancu, sehingga sulit untuk mengetahui terapi apa yang benar-benar diperlukan.
    2. Minta penjelasan mengenai apa penyebab penyakit, apa yang harus dilakukan, mengapa harus dilakukan, kapan harus cemas, dan sebagainya.
    3. Beritahu dokter bila sedang mengkonsumsi obat lain, menderita suatu penyakit, mengkonsumsi produk herba, suplemen, atau sedang menjalani terapi lain. Semuanya bisa saja berinteraksi dengan obat yang akan diberikan dokter. Jangan pernah malu untuk meminta obat generik.
    4. Saat dokter memberi resep, perhatikan tulisannya. Bila sulit dibaca, minta dengan sopan agar dokter menjelaskan obat yang dianjurkan tersebut satu per satu, meliputi apakah Anda memang memerlukan obat tersebut, apa kandungan aktifnya, bagaimana mekanisme kerjanya, indikasi dan kontra indikasi, serta efek samping dan cara mencegahnya. Dan bila perlu, minta dokter untuk menulis kembali.
    5. Hitung jumlah obat yang diresepkan dokter, termasuk jumlah yang ada di dalam puyer. Semakin panjang deretan obat yang diresepkan, Anda harus semakin waspada.
    6. Bila perlu, konsultasikan lagi isi resep tersebut pada apoteker. Simpan resep setelah ditebus. Memiliki kopi resep sangat bermanfaat bilamana terjadi reaksi alergi atau efek samping obat.

    Supaya langkah-langkah tersebut bisa berjalan dengan mudah, mungkin trik ala Rina Dewi (34 tahun) berikut ini bisa dicoba. "Sebelum periksa ke dokter, carilah informasi dari Internet, koran, buku, dan majalah mengenai gejala penyakit yang diderita. Catat hal-hal penting di dalamnya, atau bawa majalah itu ke dokter. Di sana, Anda bisa berdiskusi dengan membahas informasi tersebut. Dengan begitu, pembicaraan bisa mengalir lebih lancar. Dokter yang "nakal" juga akan berpikir dua kali jika pasiennya kritis dan punya informasi yang up to date," jelas Rina, yang mengaku selalu puas berdiskusi dengan dokter setelah menerapkan trik ini.

    Lalu bagaimana kalau langkah ini tidak berhasil? "Saya pernah mencoba usaha itu, tapi dokternya malah marah-marah karena merasa tidak dipercaya," kata Medina. Bertemu dokter semacam ini, Dr Marius menyarankan untuk tak perlu ragu mencari dokter lain yang lebih terbuka. "Perlu diingat sekali lagi, bahwa sebagai pasien Anda berhak mendapatkan layanan yang terbaik. Jadi kalau keterangan mengenai apa yang hendak dibayar tidak memuaskan, ya.. cari yang lainnya saja!

    Mengacu pada Undang-undang Perlindungan Konsumen No.8 Tahun 1999 (pasal 4), Anda berhak memilih jasa yang sudah dibayar mahal. Kalau memang bisa mendapatkan yang terbaik, untuk apa mempertaruhkan nyawa hanya karena merasa segan!

      Current date/time is Sun Dec 04, 2016 11:15 pm