kenalin PUYER !!!!

    Share

    -RD-
    FB3 Staff
    FB3 Staff

    Female
    Jumlah posting : 959
    Age : 29
    Location : Batam~jogyakarta
    Job/hobbies : shopyng =))
    Registration date : 2008-11-09

    hot tread kenalin PUYER !!!!

    Post by -RD- on Mon Mar 09, 2009 7:29 pm

    Pro Kontra Puyer, Bagaimana Menyikapinya

    Saking populernya, sebagian kalangan menganggap puyer sebagai tradisi yang tak terpisahkan dalam dunia kedokteran di Indonesia. Namun belakangan ini, pro-kontra peresepan puyer semakin meruncing.

    Mengutip Pusat Data dan Informasi Persi, Prof Dr Rianto Setiabudi, farmakolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengatakan bahwa pemberian resep puyer untuk anak-anak yang hanya mengalami gangguan kesehatan ringan termasuk bentuk pengobatan yang tidak rasional.

    Mengapa puyer ditentang

    Ada beberapa sebab utama yang membuat puyer "dituduh" demikian. Dilihat dari pembuatannya, meracik puyer dianggap tidak memenuhi standar Cara Pembuatan Obat yang Benar (CPOB). Obat-obat yang diperlukan ditimbang, digerus, dan dicampur dalam mortir. Setelah itu dibagi secara merata ke dalam kertas pembungkus.

    Cara ini, dinilai Prof Rianto tidak higienis. Saat menggerus, alur dan mortir yang digunakan bisa saja tidak bersih, bahkan bekas meracik resep obat sebelumnya. Jadi bukan hal yang mustahil, puyer tercampur dengan sisa obat yang menempel pada mortir dari resep sebelumnya. Karena tidak ditimbang, komposisi puyer yang dibagikan ke dalam kertas pembungkus juga bisa tidak tercampur rata.

    Selain itu, puyer biasanya mengkombinasikan beberapa jenis obat sekaligus sehingga interaksi antar obat di dalam puyer pun dipertanyakan. Prof Rianto juga menyoroti obat jadi yang digerus menjadi bubuk, karena dapat merusak stabilitas obat. Contohnya, obat untuk infeksi saluran pernapasan atas, yang dibuat sedemikian rupa agar terlindung dari asam lambung (preparat lepas lambat).

    Bila digerus menjadi puyer, obat itu akan kehilangan sifat lepas lambatnya sehingga cepat hancur saat terkena asam lambung. Dengan demikian, efek samping dan risiko keracunan obat menjadi meningkat. Berhubung diracik dari beberapa bahan sekaligus, bila terjadi reaksi yang tidak diinginkan, obat yang menyebabkan reaksi juga menjadi sulit dideteksi.

    Tolak ukurnya pada dosis

    Sementara yang pro-puyer, beralasan bahwa alasan utama memilih puyer dibandingkan obat jadi, adalah bahan dan dosisnya bisa disesuaikan secara lebih tepat dengan kondisi pasien.

    "Selama ini," Prof Iwan menjelaskan, "Pabrik menginginkan hanya satu bentuk dosis untuk semua orang di dunia. Namun kebijakan ini tidak bisa diterima secara ilmiah. Setiap ras di dunia mempunyai perbedaan gen dalam memproduksi enzim yang mengatur sifat absorpsi, metabolisme, dan ekskresi obat-obat tertentu di dalam tubuh. Ambil contoh, di negara Barat propranolol (obat hipertensi) diberi dalam dosis beberapa ratus miligram mungkin tidak apa-apa. Namun pada pasien di Indonesia, dosis ini bisa menghentikan denyut jantung."

    Bila selama ini puyer lebih sering diberikan untuk anak-anak, tentu ada alasannya. Negara-negara produsen obat di Amerika, Eropa, dan Jepang tidak cukup melakukan studi penentuan dosis obat jadi terutama untuk anak-anak, sehingga data mengenai efektivitas, efek samping, dan dosis yang akurat sangat sulit ditemukan. "Celakanya lagi, di Indonesia pencantuman dosis obat jadi, untuk dewasa dan anak-anak, dalam bukubuku panduan pun (seperti MIMS) dilakukan dengan cara menyontek dosis anak di negara produsen obat tadi," Prof Iwan menuturkan.

    Begitu juga dengan obat-obat yang banyak dipakai sejak tahun 1970-an, seperti parasetamol, efedrin, CTM, dan kodein. Dosis CTM (obat jadi) sebanyak 1 tablet terlalu besar, sehingga bisa membuat pasien tertidur seharian.

    Padahal untuk mendapatkan efektivitasnya, 1/2 tablet saja sudah cukup. Banyak juga orang yang mengira bahwa berkeringat banyak setelah minum parasetamol (obat penurun panas) adalah wajar. Bahkan, mengira itu tanda obatnya mulai bekerja. "Padahal itu tanda overdosis," tandas Prof Iwan.

    Itu sebabnya, para dokter yang menyadari fenomena ini merasa perlu membuat racikan puyer yang dosisnya disesuaikan dengan kondisi anak. Misalnya dengan menyesuaikan usia dan berat badannya.

    "Proses pembuatan puyer mempunyai prosedur wajib SOP (Standart Operating Procedure) yang harus dijalankan oleh tenaga farmasi. Antara lain, obat yang digunakan tidak berasal dari obat yang tidak boleh digerus (misalnya obat dalam bentuk "controlled release" seperti Euphyllin Retard dan Glucotrol XL), dosisnya pas, kombinasi antara satu bahan dengan bahan yang lainnya tidak menimbulkan reaksi negatif, dan diberikan pada pasien sesuai kondisinya," Prof Iwan menjelaskan.

    Pasien yang menentukan

    Sama seperti yang terjadi pada perusahaan obat, risiko human error pada proses peracikan puyer selalu ada. Meskipun begitu, Prof Iwan menilai bahwa memusuhi puyer hanya karena alasan itu pun tidak bijaksana, karena dengan pertimbangan menyesuaikan dosis dengan kondisi pasien, puyer tetap diperlukan.

    Tentu saja, dokter yang meresepkan puyer harus paham benar; berdasarkan diagnosa pasien, apakah pasien memang perlu puyer, bahan apa saja yang perlu diresepkan, apa saja kombinasinya, mana yang boleh digerus menjadi puyer dan yang tidak, berapa dosisnya, apakah sudah tepat sasaran, dan lain sebagainya. Bila syarat-syarat itu terpenuhi, puyer bisa dipertanggungjawabkan keakuratan, higinitas, efektivitas, dan keamanannya.

    Selama pemerintah belum mengambil sikap, pro-kontra puyer di kalangan medis sendiri mungkin terus berlanjut. Yang penting, sebagai pasien Anda mengetahui alasan mengapa puyer diperdebatkan.

    Selanjutnya, jadikan alasan-alasan tersebut sebagai bahan pertimbangan untuk memilih: mau obat jadi atau puyer, dengan melakukan trik-trik menghadapi dokter di atas (lihat artikel) pastikan obat itu benar-benar perlu dan aman!

    Ragu dengan resep yang Anda peroleh, atau ingin menambah informasi seputar obat? Silakan cari informasi gratis di:

    Instalasi Farmasi RS Cipto Mangunkusumo
    Jl. Diponegoro No.71 Jakarta Pusat
    Telp. (021) 31931688, 3918301 pesawat 5803
    Faks. (021) 3143580
    Email: farmasi@centrin.net.id

      Current date/time is Fri Dec 09, 2016 10:22 pm